5 Jun 2011

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah ditanya:"Mengapa perlu menamakan diri dg Salafiyah, apakah itu termasuk dakwah Hizbiyyah, golongan, madzhab / kelompok baru dalam Islam . . ?"
Jawaban.
Sesungguhnya kata "As-Salaf" sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam.Adapun yg menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari'atnya. Dalam riwayat yg shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radyillahu 'anha:
"Artinya: Bertakwalah kepada Allah& bersabarlah, sebaik-baik"As-Salaf" bagimu adalah Aku".
Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah "As-Salaf". Satu contoh penggunaan "As-Salaf" yg biasa mereka pakai dalam bentuk syair utk menumpas bid'ah:
"Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf".
"Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yg diada-adakan orang Khalaf".
Namun ada sebagian orang yg mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pd istillahSalaf karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tdk ada asalnya. Mereka berkata: "Seorang muslim tdk boleh mengatakan"saya seorang Salafi". Secara tdk langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tdk boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun ahlaq".
Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi utk berlepas diri dari Islam yg benar yg dipegang para Salafus Shalih yg dipimpin Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Artinya: Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya". (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).
Maka tdk boleh seorang muslim berlepas diri (bara') dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain SalafusShalih, tdk akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran / kefasikan.
Orang yg mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pd suatu madzhab, baik secara akidah / fikih . . ?. Bisa jadi ia seorang Asy'ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi'i, Maliki / Hambali semata yg masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama'ah.
Padahal orang-orang yg bersandar kepada madzhab Asy'ari & pengikutmadzhab yg empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yg tdk maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yg benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yg tdk maksum ini tdk diingkari . . ?
Adapun orang yg berintisab kepadaSalafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi & para sahabatnya. Dengan demikiansiapa yg berpegang dg manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah 'Azza wa Jalla.
Salafiyah merupakan predikat yg akan memuliakan & memudahkan jalan menuju "Firqah Najiyah". Dan hal itu tdk akan didapatkan bagi orang yg menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tdk akan terlepas dari dua perkara:
Pertama.
Menisbatkan diri kepada pribadi yg tdk maksum.
Kedua.
Menisbatkan diri kepada orang-orang yg mengikuti manhaj pribadi yg tdk maksum.
Jadi tdk terjaga dari kesalahan, & ini berbeda dg Ishmah para shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yg mana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya & sunnah para sahabat setelahnya.
Kita tetap terus & senantiasa menyerukan agar pemahaman kitaterhadap Al-Kitab & As-Sunnah selaras dg manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan Ishmah (terjaga dari kesalahan) & tdk melenceng maupun menyimpang dg pemahaman tertentu yg tanpa pondasi dari Al-Kitab & As-Sunnah.
Mengapa sandaran terhadap Al-Kitab & As-Sunnah belum cukup .. ?
Sebabnya kembali kepada dua hal, yaitu hubungannya dg dalil syar'i & fenomena Jama'ah Islamiyah yg ada.
Berkenan Dengan Sebab Pertama:
Kita dapati dalam nash-nash yg berupa perintah utk menta'ati hal lain disamping Al-Kitab & As-Sunnah sebagaimana dalam firman Allah:
"Artinya: Dan taatilah Allah, taatilahRasul & Ulil Amri diantara kalian".
(An-Nisaa: 59).
Jika ada Waliyul Amri yg dibaiat kaum Muslimin maka menjadi wajib ditaati seperti keharusan taat terhadap Al-Kitab & As-Sunnah.Walau terkadang muncul kesalahandari dirinya & bawahannya. Taat kepadanya tetap wajib utk menepisakibat buruk dari perbedaan pendapat dg menjunjung tinggi syarat yg sudah dikenal yaitu:
"Artinya: Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al-Khalik". (LihatAs-Shahihah No. 179)
"Artinya: Dan barang siapa yg menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, & mengikuti jalan yg bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yg telah dikuasainya itu, & Kami masukkan dia ke dalam Jahannan& Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". (An-Nisaa: 115)
Allah Maha Tinggi & jauh dari main-main. Tidak disangkal lagi, penyebutan Sabilil Mu'minin (Jalan kaum mukminin) pasti mengandung hikmah & manfa'at ygbesar. Ayat itu membuktikan adanya kewajiban penting yaitu agar ittiba' kita terhadap Al-Kitab &As-Sunnah harus sesuai dg pemahaman generasi Islam yg pertama (generasi sahabat). Inilah yg diserukan & ditekankan oleh dakwah Salafiyah di dalam inti dakwah & manhaj tarbiyahnya.
Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Sedangkan dakwah lainnya hanya akan mencabik-cabiknya. Allah berfirman:
"Artinya: Dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yg benar". (At-Taubah: 119)
Siapa saja yg memisahkan antara Al-Kitab & As-Sunnah dg As-Salafus Shalih bukanlah seorang yg benar selama-lamanya.
Adapun Berkenan Dengan Sebab Kedua:
Bahwa kelompok-kelompok & golongan-golongan (umat Islam) sekarang ini sama sekali tdk memperhatikan utk mengikuti jalan kaum mukminin yg telah disinggung ayat di atas & dipertegas oleh beberapa hadits.
Diantaranya hadits tentang firqah yg berjumlah tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu. Rasul mendeskripsikannya sebagai:
"Dia (golongan itu) adalah yg berada di atas pijakanku & para sahabatku hari ini".
Hadits ini senada dg ayat yg menyitir tentang jalan kaum mukminin. Di antara hadits yg juga senada maknanya adalah, hadits Irbadl bin Sariyah, yg di dalamnya memuat:
"Artinya: Pegangilah sunnahku & sunnah Khulafair Rasyidin sepeninggalku".
Jadi di sana ada dua sunnah yg harus di ikuti: sunnah Rasul & sunnah Khulafaur Rasyidin.
Menjadi keharusan atas kita -generasi mutaakhirin- utk merujuk kepada Al-Kitab & As-Sunnah & jalan kaum mukminin.Kita tdk boleh berkata: "Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab& As-Sunnah tanpa petunjuk SalafusAs-Shalih".
Demikian juga kita harus memiliki nama yg membedakan antara yg haq & batil di jaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan:"Saya seorang muslim (saja) / bermadzhab Islam.Sebab semua firqah juga mengaku demikian baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij),Ahmadiyyah & yg lain. Apa yg membedakan kita dg mereka . . ?
Kalau kita berkata: Saya seorang muslim yg memegangi Al-Kitab & As-Sunnah. ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba' terhadap keduanya.
Tidak syak lagi, nama yg jelas, terang & membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan: "Saya seorang muslim yg konsisten dg Al-Kitab & As-Sunnah serta bermanhaj Salaf", / disingkat "Saya Salafi".
Kita harus yakin, bersandar kepadaAl-Kitab & As-Sunnah saja, tanpa manhaj Salaf yg berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, & jihad, belumlah cukup.
Kita paham para sahabat tdk berta'ashub terhadap madzhab / individu tertentu. Tidak ada dari mereka yg disebut-sebut sebagai Bakri, Umari, Utsmani / Alawi (pengikut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Bahkan bila seorang di antara mereka bisa bertanya kepada Abu Bakar, Umar / Abu Hurairah maka bertanyalah ia. Sebab mereka meyakini bahwa tdkboleh memurnikan ittiba' kecuali kepada satu orang saja yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yg tdk berkata dg kemauannafsunya, ucapannya tiada lain wahyu yg diwahyukan.
Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengkritik itu, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai muslimin saja tanpa penyandaran kepada manhaj Salaf ; padahal manhaj Salaf merupakan nisbat yg mulia & benar. Lalu apakah mereka (pengkritik) akan terbebas dari penamaan diri dg nama-nama golongan madzhab / nama-nama tarekat mereka . ? Padahal sebutanitu tdk syar'i & salah . . !?.
Allah adalah Dzat Maha pemberi petunjuk menuju jalan lurus. Wallahu al-Musta'in.
Demikianlah jawaban kami. Istilah Salaf bukan menunjukkan sikap fanatik / ta'assub pd kelompok tertentu, tetapi menunjukkan pd komitmennya utk mengikuti Manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur'an & As-Sunnah.
Wallahu Waliyyut-Taufiq.
(Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th. II/15 Sya'ban 1414H, Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183)
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani & diterbitkan oleh almanhaj. or. id
http://gammy-asqallany-al-abass.blogspot.com/
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!