8 Jul 2011

[1] Problematika yang timbul dari
keberadaan penganut ajaran
Ahmadiyah di tengah kaum
muslimin tetap saja akan
mencuat. Seiring dengan
agresivitas golongan yang pertama kali muncul di daratan
India itu dalam menyebarluaskan
pemahaman-pemahaman si Nabi
Palsu, antek penjajah Inggris. Sebagian orang meyakini kalau
Ahmadiyah hanya sekedar firqoh
(golongan sempalan) dalam Islam.
Sebuah golongan yang
mempunyai furû (dalam masalah
fikih misalnya) yang berbeda dari golongan lainnya. Tidak ada titik
perbedaan selain ini. Pendapat
demikian ini dipatahkan oleh Syaikh Ihsân Ilâhi Zhâhir rahimahullah. Dalam keterangan
beliau, seorang muslim
hendaknya tahu betapa besar
kesalahan asumsi di atas.
Pasalnya, golongan yang juga
dikenal nama Qadiyaniah tidak mempunyai hubungan apapun
dengan Islam. Hanya saja mereka
mengenakan baju Islam untuk
mengecoh kaum muslimin [2]. Berikut ini 2 (dua) fakta dari
kitab-kitab mereka yang
menguatkan kesimpulan tersebut,
baik tulisan maupun pernyataan
sang Nabi Palsu atau para
penerus aqidah sesatnya. Wallahul Hâdi [3] SEORANG MUSLIM ADALAH
ORANG KAFIR SEBELUM
MEMELUK AGAMA AHMADIYAH Keterangan di atas tidak
mengada-ada. Bila seorang
muslim meninggal, maka tidak
akan disholati oleh Ahmadiyyûn,
juga tidak boleh dikuburkan di
pemakaman mereka. Selain itu pula, pernikahan antara seorang
lelaki yang menganut agama
Islam yang dibawa Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan wanita
penganut ajaran Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad (semoga
memperoleh hukuman setimpal
dari Allah Azza wa Jalla) tidak
boleh terjadi. Karena ia dalam
pandangan ‘Nabi’ Ghulam
Ahmad sudah kafir. Berikut ini penuturan dan pernyataannya:
“Orang yang tidak beriman
kepadaku, berarti ia tidak
beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya”. [4] Putranya yang meneruskan
kedustaan sang ayah, Mahmûd
Ahmad menguatkan: “Seorang
lelaki menemuiku di sebuah
wilayah. Ia menanyakan
mengenai berita yang telah beredar bahwa kalian
mengkafirkan kaum muslimin
yang tidak menganut agama
Ahmadiyah. Apakah itu memang
benar. Maka saya menjawab, Iya.
Tidak diragukan lagi. Kami memang mengkafirkan kalian”.
Maka lelaki tersebut merasa aneh
dan kaget”.[5] Anaknya yang lain, Basyîr Ahmad
dengan tanpa malu-malu
mengatakan: “Setiap orang yang
beriman kepada Musa
Alaihissallam, tapi tidak beriman
kepada Isa Alaihissallam, juga tidak beriman kepada Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka dia kafir. Begitu pula orang
yang tidak beriman kepada
Ghulam Ahmad maka dia kafir
juga, telah keluar dari Islam. Kami tidak mengatakan ini dari
diri kami sendiri. Namun kami
mengutip dari Kitabullah
“Merekalah orang-orang yang
kafir sebenar-benarnya..”(an-
Nisâ/4:151) (Kalimatul Fashl, Basyîr Ahmad bin Nabi Palsu). Di
sini bisa dilihat, bagaimana ia tak
lupa mencatut dan membajak
ayat al-Qur`an untuk kepentingan
golongannya yang lebih pantas
disebut agama baru Ahmadiyah. Putra Ghulam pernah juga
mengutip pernyataan Nuruddin,
pengganti Ghulam yang pertama
(Khalifah Ahmadiyah yang
pertama setelah kebinasaan Nabi
Palsu mereka) : “Sesungguhnya kaum muslimin selain penganut
ajaran Qâdiyaniah (Ahmadiyah)
masuk dalam kandungan firman
Allah Azza wa Jalla : “Merekalah
orang orang yang kafir sebenar-
benarnya”. Kemudian ia membubuhkan catatan (ta’liq)
setelah perkataan di atas,
bunyinya: “Bagaimana mungkin
orang yang mengingkari Musa
Alaihissallam menjadi kafir dan
terlaknat, yang mengingkari Isa Alaihissallam juga kafir,
sementara orang yang
mengingkari Ghulam Ahmad tidak
kafir. Padahal perkataan kaum
mukminin adalah “Kami tidak
membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain)
dari rasulrasul-Nya,” .
Sementara mereka itu
membedakan sikap terhadap
para rasul. Oleh karena itu, orang
yang mengingkari Ghulam Ahmad pasti orang kafir dan masuk
dalam firman Allah : “Merekalah
orang orang yang kafir sebenar-
benarnya” [Kalimatul Fashl,
Basyîr Ahmad hal. 120, 174]. Dalam kitab an-Nubuwwah Fil
Ilhâm, hasil karya salah satu
ulama Ahmadiyah termaktub:
“Sesungguhnya Allah k berkata
kepadanya (Si Nabi Palsu):
“Orang yang mencintai-Ku dan menaati-Ku, wajib atas dirinya
mengikutimu dan beriman
kepadamu. Kalau tidak, ia belum
mencintai-Ku. Bahkan sebaliknya,
ia adalah musuh-Ku. Apabila para
pengingkar menolak ini, atau bahkan mendustakanmu dan
menyakitimu, maka Kami akan
membalas mereka dengan
balasan yang buruk, dan Kami
persiapkan bagi orang-orang
kafir itu Jahannam sebagai penjara bagi mereka”. Lalu
penulis berkomentar mengenai
ilham di atas, bahwa Allah Azza
wa Jalla telah menjelaskan di sini
bahwa orang yang mengingkari
Ghulam adalah orang kafir dan balasannya Jahannam”. [an-
Nubuwwah Wal Ilhâm,
Muhammad Yûsuf al-Qâdiyâni hal.
40]. Demikian cuplikan aqidah mereka
tentang kaum muslimin melalui
tulisan-tulisan sang Nabi palsu,
keturunan dan tokoh agama
mereka. Masih banyak aqidah
buruk mereka yang lain, yang kian menegaskan kesimpulan di
awal tulisan ini bahwa mereka
bukan kaum muslimin lagi. Jadi,
tinggal menunggu keberanian
mereka untuk menyatakan
dengan lantang dan keras bahwa mereka bukan kaum muslimin.
Dengan ini tensi permusuhan
kaum muslimin dengan mereka
(mungkin) sedikitbanyak akan
mereda.[6] TERPAKSA SHALAT DENGAN
KAUM MUSLIMIN KARENA
TAKUT TERBONGKAR JATI
DIRINYA BUKAN MUSLIM Karena vonis kafir yang mereka
arahkan kepada kaum Muslimin,
maka mereka tidak
memperbolehkan sholat di
belakang seorang muslim. Mesti
dipastikan terlebih dahulu bahwa sang imam adalah juga penganut
agama Ahmadiyah, sebelum
mereka ikut serta dalam suatu
sholat jamaah. Seandainya
mereka ikut serta dalam sholat
berjamaah dengan kaum muslimin, itu mereka lakukan
sekedar untuk menutupi topeng
mereka. Lantas mereka akan
mengulangi sholat (ala mereka) di
rumah. Sang Nabi Palsu berkata: “Inilah
(keterangan di atas) adalah
madzhabku yang sudah jelas.
yakni, tidak boleh bagi kalian
untuk sholat di belakang selain
penganut Ahmadiyah. Dalam kondisi apapun, siapapun
imamnya, walaupun nanti
memperoleh pujian dari orang-
orang. Inilah hukum Allah dan
kehendak Allah (?). Orang yang
ragu dan sangsi tentang ini termasuk dalam hitungan kaum
yang mendustakan. Allah ingin
membedakan kalian dari orang
lain [Malfûzhât al- Ghulâm/
pernyataan-pernyataan Ghulam
yang diterbitkan di Majalah al- Hikam milik Ahmadiyah tanggal
10 Desember 1904 M]. Dalam kitab Arbaîn miliknya (hal
34-35), si Nabi palsu berkata:
“Sesungguhnya Allah Azza wa
Jalla telah memberiku berita
bahwa Dia secara qath’i
mengharamkan untuk sholat di belakang orang yang
mendustakanku atau ragu untuk
taat kepadaku. Kewajiban kalian
adalah mengerjakan sholat di
belakang imam-imam kalian…
kerjakan apa yang saya perintahkan. Apakah kalian ingin
amalan kalian terhapus tanpa
kalian sadari?”. Si anak pun tak mau kalah. Dalam
masalah yang sama, ia
menetapkan: “Tidak boleh
sholat di belakang selain
penganut Ahmadiyah. Orang
orang terus saja bertanya tentang ini, apakah boleh seorang
penganut Ahmadiyah sholat di
belakang orang yang bukan
Ahmadiyah?. Saya katakan meski
terus kalian bertanya tentang ini
kepadaku, maka jawabnya sesungguhnya tidak boleh
penganut ajaran Ahmadiyah
sholat di belangan orang yang
bukan menganut (agama)
Ahmadiyah, tidak boleh, tidak
boleh”. Fakta sejarah lain, dengan aktor
Khalifah kedua Ahmadiyah, putra
Nabi Palsu, Mahmûd Ahmad. Dia
sedang mengisahkan perjalanan
hajinya ke Mekkah. [7] Katanya: “Saya pergi tahun 1912 M ke
Mesir. Dari sana kemudian saya
berangkat naik haji. Di Jedah,
kakek dari ibu menemuiku.
Lantas, kami bersama-sama pergi
ke Mekkah. Di hari pertama, saat kami thowaf, waktu sholat
datang. Saya berniat keluar (dari
Masjidil Haram, red). Namun,
jalan keluar sudah terhalangi
karenanya kondisi sangat padat
dengan jamaah sholat. Selanjutnya, saya akhirnya
sholat. Kakekku menyuruh aku
untuk sholat. Kami pun sholat.
Ketika sampai di rumah, kami
kemudian saling berkata: “Ayo,
kita kerjakan sholat lagi karena Allah. Sholat tidak bisa
dilaksanakan dan tidak diterima
bila dikerjakan di belakang imam
yang bukan penganut Ahmadiyah
…”(?!) [8] TANTANGAN SYAIKH IHSAN
ILAHI ZHAHIR RAHIMAHULLAH Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir
rahimahullah yang sangat
menguasai ke-Ahmadiyah-an
mengatakan: “Setelah seluruh
fakta ini, saya tidak tahu, kenapa
mereka masih mengenakan baju Islam dan memperdayai kaum
muslimin. Sebab, bila mereka
benar-benar memiliki sifat
keberanian, mestinya tertuntut
untuk memproklamirkan bahwa
mereka bukan kaum muslimin dan tidak ada hubungannya
dengan kaum muslimin. Tidak
menutupi diri dengan nama
agama yang lurus ini (Islam).
Tapi, seharusnya menyuarakan
agama mereka yang berdiri sendiri dan pemahaman mereka
yang baru. Seperti yang
dilakukan golongan Bahaiyah
yang ‘berani’ berterus-terang
menyampaikan maklumat
terpisahnya mereka dari seluruh agama yang ada. Ini lebih
bermanfaat dan lebih baik bagi
mereka. Akan tetapi, seperti kami ungkap
dalam buku al-Qâdiyâniyah
‘Amîlatul Isti’mâr (Qadiyaniah
antek kolonialisme), bahwa
tujuan mereka ialah mencoreng
muka Islam dan melontarkan keraguan terhadap aqidah kaum
muslimin, mengais materi (dari
penjajah Inggris), dan melayani
kekuasaan penjajah dan
mempropagandakan dakwah
batil tersebut di benua Afrika dan tempat-tempat lainnya. Hingga
Islam mesti menanggung
kerugian dan kaum muslimin pun
terpedaya karenanya. Inilah
aqidah mereka. Mereka tidak
memperbolehkan sholat di belakang kaum muslimin ataupun
menyolati kaum muslimin (di luar
jamaah Ahmadiyah). Karenanya,
ketika pendiri Negara Pakistan
meninggal, Muhammad Ali Jinah
rahimahullah, sang menteri luar negeri pada zaman itu yang
bernama Zhafrullah Khan tidak
menyolati beliau. Sebabnya
sangat jelas. Karena Muhammad
Ali Jinah rahimahullah menurut
pandangannya telah kafir lantaran memegangi petunjuk
Muhammad dan membebaskan
umat Islam dari cakar-cakar
penjajah…” [9] PENUTUP Perkembangan ajaran Ahmadiyah
harus diwaspadai setiap muslim.
Sebab, hakikatnya merupakan
usaha permurtadan. Hingga tidak
boleh dilihat dengan sebelah
mata. Tatkala mereka mengalami kegagalan dalam mendakwahkan
agama Ahmadiyah di daratan
India, mereka membidik benua
Eropa dan Afrika. Dan ternyata
‘lebih berhasil’ dalam
memurtadkan kaum muslimin. Pasalnya, dalam kurun waktu 70
tahun sejak pertama kali
dideklarasikan dan dengan
dukungan penuh dari kaum
kolonialis, jumlah penganut
Ahmadiyah India hanya berkisar pada angka ribuan. Padahal,
Jawaharlal Nehru, saat menjabat
PM India juga mendukung
gerakan permurtadan ini. Karena
kaum muslimin di sana
mengetahui hakikat busuk Ahmadiyah. Akan tetapi, di benua
Afrika dan Eropa, dalam rentang
waktu 15 tahun saja, penganut
Ahmadiyah berjumlah jutaan.
Kata Syaikh Ihsan, penyebabnya
ialah, pada waktu itu jumlah dai Islam di sana tidak banyak [10]. Sebagai penutup, kami kutipkan
pesan beliau kepada umat Islam:
“Usaha untuk melawan
Ahmadiyah guna menghentikan
ancamannya sudah menjadi
kewajiban dalam Islam, politik dan secara individual. Dari kaca
mata agama, karena telah
mengobrak-abrik ajaran Islam
dan menghancurkan rukun-
rukunnya. Adapun dari sudut
politis, lantaran Ahmadiyah merupakan kepanjangan tangan
kekuasaan kolonialis di setiap
distrik yang ditempati. Dan,
secara individu, telah dilakukan
oleh DR. Muhammad Iqbal yang
menyanggah pernyataan PM Jawaharlal Nehru yang
mendukung ajaran agama
Ahmadiyah”. Semoga Allah Azza wa Jalla
melindungi kaum muslimin dari
segala fitnah, yang tampak
maupun tersembunyi. Wallahul
Musta’an. [Disalin dari majalah As-Sunnah
Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo –
Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com dipublikasi kembali dari
Almanhaj.or.id
_______
Footnote [1]. Diangkat dari al-Qâdiyâniyah, Dirâsât Wa Tahlîl karya Syaikh Ihsân Ilâhi Zhâhir (1941-1987),
Idârah Turjumânis Sunnah Lahore
Pakistan tanpa tahun, hal 37-42 [2]. al-Qâdiyâniyah, Dirâsât Wa Tahlîl hal. 37 [3]. Topik tentang Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad pernah
diangkat dari sudut yang berbeda
dari tulisan di atas pada Majalah
as-Sunnah Edisi Khusus Tahun IX
(1426H-2005M) [4]. Diterbitkan dalam Hazhâratul Islâm edisi V tahun 1386 H. [5]. Anwâr Khilâfât hal. 92 [6]. Kami tidak sedang ikut serta dalam memprovokasi umat untuk
menggayang Ahmadiyah yang
eksis di tanah air. Karena,
tindakan nahi mungkar mesti
memenuhi kaidah-kaidah syariat
yang sudah baku. Tidak ditempuh dengan cara-cara serampangan,
destruktif dan kekerasan atas
dasar emosi atau perasaan
belaka. [7]. Pada gilirannya, penganut Ahmadiyah dilarang memasuki
kota suci Mekkah. Karena
mereka telah kafir. Red). [8]. Nukilan dari al-Qâdiyâniyah hal. 39-40 [9]. al-Qâdiyâniyah hal. 42 [10]. Lihat al-Qâdiyâniyah hal. 21-22 Artikel Terkait: ~ Ahmadiyah Juga Anggap Kita
Kafir
~ Fatwa MUI Tentang Kesesatan
Ahmadiyah
~ Sejarah Keramat Mirza Ghulam
Ahmad (Nabi Palsu Dari India) ~ Kitab Tadzkirah dan Kesesatan
Di Dalamnya
~ Ahmadiyah Qadyan dan
Ahmadiyah Lahore Sama Sama
Pemalsu Islam
~ Mirza Ghulam Ahmad ” Kematianya menjijikkan
selesai.
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!