9 Jun 2011



Berbilangnya Jamaah Merupakan Fenomena Penyakit, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apakah berbilangnya jama'ah Islamiyah dilapangan (dakwah) mempunyai dampak negative / ia justru merupakan fenomena yg baik?
Jawaban
Berbilangnya jama'ah adalah merupakan fenomena yg tdk sehat & bukan sebuah fenomena yg baik. Dan saya memandang adalah hendaknya umat Islam ini menjadi satu kelompok, yg menyandarkan loyalitas kepada Kitabullah & Sunnah RasulNya. Dandg perkataan ini saya tdk bermaksud utk memaksa manusiautk bersatu dalam satu pendapat, karena hal ini adalah sesuatu yg tdk mungkin. Dan khilaf dalam pendapat tetap ada walaupun di zaman para sahabat -Ridhwanullah 'Alaihim- , & bahkandi zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka para sahabat yg dilarang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya: Janganlah salah seorang dari kalian mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah"
Lalu keluar dari kota Madinah & waktu shalat pun mendapati mereka sehingga mereka berbedafaham dalam memahami nash ini.Maka diantara mereka ada yg memandang utk mengakhirkan shalat hingga mereka tiba di Bani Quraizhah walaupun waktunya telah keluar. Dan diantara merekaada yg memandang utk mengerjakan shalat pd waktunya walaupun belum tiba di Bani Quraizhah. Dan hal inipun sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam namun beliau tdk menyalahkan seorangpun dari mereka.
Yang penting adalah bahwa khilaf dalam pendapat akan ada namun khilaf dalam arah (pemikiran)lah yg dikhawtirkan. Dengan arti bahwa setiap orang dari kita meyakini bahwa ia berada di atas manhaj yg menyelisihi manhaj saudaranya, dimana ia kemudian membicarakan & mencela & bahkan boleh jadi mengeluarkannya dari Islam ; karena ia tdk berada di atas metodenya.
Inilah yg dikhawatirkan sebagaimana yg terjadi dari sebagian orang hari ini. Anda menemukan jika ia diselisihi oleh seseorang dalam pendapatnya -dan boleh jadi pendapat yg benar bersama dg orang yg menyelisihinya- maka ia akan menyerang & mencelanya pd setiap kesempatan yg memungkinkannya utk mencela & menyerangnya.
Ini tdk diragukan lagi menyelisihi jalan orang-orang yg beriman, sebab orang-orang beriman adalah bersaudara yg saling menyayangi walaupun mereka berbeda dalam pendapat. Bahkan sesungguhnya saya mengatakan: Perbedaan dalam pendapat jika didasari oleh dalil maka ia hakikatnya bukanlah ikhtilaf ; karena kedua orang yg berbeda tdk lain ingin mengamalkan dalil. Maka dalam kenyataannya, mereka bersepakat akan tetapi berbeda dalam memahami dalil. Perbedaan dalam pemahaman ini adalah perkara yg selalu ada pd bani Adam, & tdk akan membawa mudharat & tdk akan mengakibatkan perbedaan hati jika disertai niat yg baik.
(Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,Penerbit Darul Haq)
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin & diterbitkan oleh almanhaj. or. id
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!