16 Jun 2011

Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata Beberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena ke- rese- annya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun, tidak ada seorangpun yangberani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah. Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Diamengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahanmereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktikkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan,kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula. Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dankeras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat. Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya… Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya? Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkandi zaman Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, di mana kejahatanlebih mendominasi dunia dibandingkebaikan. Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia ? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan? Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan. Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarikmereka untuk mengikuti kebenaran tersebut. Perintah untuk Berakhlak Mulia Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupanmanusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya: Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ” Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4). Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ” “Berakhlak mulialah dengan paramanusia.” (H.R. Tirmidzy (hal. 449no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih ) . Apa itu Akhlak Mulia? Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili: “بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى” “Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti.” [Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala' al-A'lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû' Rasâ'ilal-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319)]. Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam: 1. Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya. 2. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal. 3. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa. -bersambung insya Allah - Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Artikel www.tunasilmu.com
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!