Larangan Imam Malik Terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat Dalam Agama, Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais
. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Mush'ab bin Abdullah bin az-Zubairi, katanya, Imam Malik pernah berkata: "Sayatdk menyukai Ilmu Kalam dalam masalah agama, warga negeri ini juga tdk menyukainya, & melarangnya, seperti membicarakan pendapat Jahm binShafwan, masalah qadar & sebagainya. Mereka tdk menyukai Kalam kecuali di dalam terkandung amal. Adapun Kalam di dalam agama, bagi saya lebih baik diam saja. karena hal-hal di atas
. Imam Abu Nu'aim juga meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi, katanya, saya mendengar Imam Malik berkata: "Seandainya ada orang melakukan dosa besar seluruhnya kecuali menjadi musyrik. kemudian dia melepaskan diri dari bid'ah-bid'ah Ilmu Kalam ini, dia akan masuk surga. "
. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Ishaq bin Isa, katanya, Imam Malik berkata, "Barangsiapa yg mencari agama lewat Ilmu Kalam ia akan menjadi kafir zindiq, siapayg mencari harta lewat Kimia, ia akan bangkrut, & siapa yg mencaribahasa-bahasa yg langka dalam Hadits (gharib al-Hadits) ia akan bohong. "
. Imam al-Katib al-Baghdadi meriwayatkan dari Ishaq bin Isa, katanya, saya mende-ngar Imam Malik berkata: "Berdebat dalam agama itu aib (cacat). " Beliau jugaberkata: "Setiap ada orang datang kepada kita, ia ingin berdebat. Apakah ia bermaksud agar kita inimenolak apa yg telah dibawa olehMalaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam?"
. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Mahdi, katanya, saya masuk ke rumah Imam Malik, & di situ ada seorangyg sedang ditanya oleh Imam Malik: "Barangkali kamu murid dari 'Amir bin 'Ubaid. Mudah-mudahan Allah melaknat ‘Amr bin ‘Ubaid karena dialah yg membuat bid’ah Ilmu Kalam. Seandainya kalam itu merupakan Ilmu, tentulah para Sahabat & Tabi’in sudah membicarakannya, sebagaimana mereka juga berbicara masalah hukum (fiqih) & syari’ah. ”
. Imam al-Harawi meriwayatkan dari ‘Aisyah bin Abdul Aziz, katanya, saya mendengar Imam Malaik berkata: “Hindarilah bid’ah”. Kemudian ada orang yg bertanya, “Apakah bid’ah itu, wahai Abu Abdillah?”. Imam Malik menjawab: “Penganut bid’ah itu adalah orang-orang ygmembicarakan masalah nama-nama Allah, sifat-sifat Allah,kalam Allah, ilmu Allah, & qudrah Allah. Mereka tdk mau bersikap diam (tidak memperdebatkan) hal-hal yg justru para Sahabat & Tabi’in tdk membicarakannya. ”
. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Imam Syafi’i,katanya, Imam Malik bin Anas, apabila kedatangan orang yg dalam agama mengikuti seleranyasaja, beliau berkata: “Tentang diri saya sendiri, saya sudah mendapatkan kejelasan tentang agama dari Tuhanku. Sementara anda memilih ragu-ragu. Pergilah saja kepada orang-orang yg masihragu-ragu, & debatlah dia. ”
. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Muhammad bin Ahmad al-Mishri al-Maliki, di mana ia berkata dalam bab al-Ijarat dalam kitab al-Khilaf, Imam Malik berkata: “Tidak boleh menyebarkan kitab-kitab yg ditulis oleh orang-orang yg dalam beragama hanya mengikuti selera, bid’ah & klenik; & kitab-kitab itu adalah kitab-kitab penganut kalam, seperti kelompok Mu’tazilah & sebagainya. ”
Dan Itulah sekilas tentang sikap Imam Malik bin Anas & pendapat-pendapat beliau tentang masalah Tauhid, Sahabat, Imam, Ilmu Kalam & Lain-lain
(Disalin dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad), Bab Aqidah Imam Malik bin Anas Hanifah, oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta)
__ Foote Note
. Jami' Bayan al-'Ilm wa Al-Fadhilah, hal. 415
. Al-Hilyah, VI/325
. Dzamm Al-Kalam, lembar 173-B
. Syaraf ASh-hab Al-Hadits, hal. 5
. Dzan Al-Kalam, lembar 173-B
. Ibid, lembar 173
. Al-Hilyah, VI/324
. Jami' Bayan al-'Ilm wa Al-Fadhilah, hal. 416-417
Penulis: Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais & diterbitkan oleh almanhaj. or. id
Dipublikasikan ulang :http://gammyasqallanyalabass.blogspot.com/
. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Mush'ab bin Abdullah bin az-Zubairi, katanya, Imam Malik pernah berkata: "Sayatdk menyukai Ilmu Kalam dalam masalah agama, warga negeri ini juga tdk menyukainya, & melarangnya, seperti membicarakan pendapat Jahm binShafwan, masalah qadar & sebagainya. Mereka tdk menyukai Kalam kecuali di dalam terkandung amal. Adapun Kalam di dalam agama, bagi saya lebih baik diam saja. karena hal-hal di atas
. Imam Abu Nu'aim juga meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi, katanya, saya mendengar Imam Malik berkata: "Seandainya ada orang melakukan dosa besar seluruhnya kecuali menjadi musyrik. kemudian dia melepaskan diri dari bid'ah-bid'ah Ilmu Kalam ini, dia akan masuk surga. "
. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Ishaq bin Isa, katanya, Imam Malik berkata, "Barangsiapa yg mencari agama lewat Ilmu Kalam ia akan menjadi kafir zindiq, siapayg mencari harta lewat Kimia, ia akan bangkrut, & siapa yg mencaribahasa-bahasa yg langka dalam Hadits (gharib al-Hadits) ia akan bohong. "
. Imam al-Katib al-Baghdadi meriwayatkan dari Ishaq bin Isa, katanya, saya mende-ngar Imam Malik berkata: "Berdebat dalam agama itu aib (cacat). " Beliau jugaberkata: "Setiap ada orang datang kepada kita, ia ingin berdebat. Apakah ia bermaksud agar kita inimenolak apa yg telah dibawa olehMalaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam?"
. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Mahdi, katanya, saya masuk ke rumah Imam Malik, & di situ ada seorangyg sedang ditanya oleh Imam Malik: "Barangkali kamu murid dari 'Amir bin 'Ubaid. Mudah-mudahan Allah melaknat ‘Amr bin ‘Ubaid karena dialah yg membuat bid’ah Ilmu Kalam. Seandainya kalam itu merupakan Ilmu, tentulah para Sahabat & Tabi’in sudah membicarakannya, sebagaimana mereka juga berbicara masalah hukum (fiqih) & syari’ah. ”
. Imam al-Harawi meriwayatkan dari ‘Aisyah bin Abdul Aziz, katanya, saya mendengar Imam Malaik berkata: “Hindarilah bid’ah”. Kemudian ada orang yg bertanya, “Apakah bid’ah itu, wahai Abu Abdillah?”. Imam Malik menjawab: “Penganut bid’ah itu adalah orang-orang ygmembicarakan masalah nama-nama Allah, sifat-sifat Allah,kalam Allah, ilmu Allah, & qudrah Allah. Mereka tdk mau bersikap diam (tidak memperdebatkan) hal-hal yg justru para Sahabat & Tabi’in tdk membicarakannya. ”
. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Imam Syafi’i,katanya, Imam Malik bin Anas, apabila kedatangan orang yg dalam agama mengikuti seleranyasaja, beliau berkata: “Tentang diri saya sendiri, saya sudah mendapatkan kejelasan tentang agama dari Tuhanku. Sementara anda memilih ragu-ragu. Pergilah saja kepada orang-orang yg masihragu-ragu, & debatlah dia. ”
. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Muhammad bin Ahmad al-Mishri al-Maliki, di mana ia berkata dalam bab al-Ijarat dalam kitab al-Khilaf, Imam Malik berkata: “Tidak boleh menyebarkan kitab-kitab yg ditulis oleh orang-orang yg dalam beragama hanya mengikuti selera, bid’ah & klenik; & kitab-kitab itu adalah kitab-kitab penganut kalam, seperti kelompok Mu’tazilah & sebagainya. ”
Dan Itulah sekilas tentang sikap Imam Malik bin Anas & pendapat-pendapat beliau tentang masalah Tauhid, Sahabat, Imam, Ilmu Kalam & Lain-lain
(Disalin dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad), Bab Aqidah Imam Malik bin Anas Hanifah, oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta)
__ Foote Note
. Jami' Bayan al-'Ilm wa Al-Fadhilah, hal. 415
. Al-Hilyah, VI/325
. Dzamm Al-Kalam, lembar 173-B
. Syaraf ASh-hab Al-Hadits, hal. 5
. Dzan Al-Kalam, lembar 173-B
. Ibid, lembar 173
. Al-Hilyah, VI/324
. Jami' Bayan al-'Ilm wa Al-Fadhilah, hal. 416-417
Penulis: Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais & diterbitkan oleh almanhaj. or. id
Dipublikasikan ulang :http://gammyasqallanyalabass.blogspot.com/




0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.