30 Jun 2011


Telah menjadi ketentuan Allah bahwa Ia akan menguji setiap hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menghalangi Allah untuk melakukannya. Dengan ujian ini, diketahui lah orang-orang yang benar dalam keimanannya dan orang-orang yang dusta dalam keimanannya. Allah berfirman di dalam surat Al Ankabut: 2-3, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?*, dan sungguh telah Kami uji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta (di dalam keimanannya)” .
Di antara bentuk ujian yang Allah persiapkan untuk hamba-Nya adalah adanya berbagai macam musibah. Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami uji kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwadan buah-buahan . ” [Al Baqarah: 155]
Sabar sebagai solusi
Pembaca yang budiman, adanya musibah yang bertubi-tubi mengguyur negeri yang kita cintai ini menuntut adanya solusi dan jalan keluar, sehingga kita tidak terlampau berduka cita karenanya. Dengan rahmat-Nya, Allah telah memberitahukan kepada kita sebuah solusi dan jalan keluar ketika musibah menghampiri kita. Kesabaran merupakan sikap seorang muslim ketika tertimpa musibah.
Di dalam Al Qur`an, Allah banyak bertutur mengenai sifat sabar. Ia memerintahkan para hamba-Nya untuk bersabar, menerangkan keutamaan sifat sabar, menyebutkan ganjaran bagi para penyabar dan lain-lainnya. Di antaranya Allah berfirman (artinya), ”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (dalam kesabaran) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” . [Ali ‘Imran: 120].
Bahkan, pada ayat yang lain Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar. Allah berfirman (artinya), “Bersabarlah (wahai Nabi) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolonganAllah….” [An Nahl: 127].
Dan sebagai bentuk keutamaan sifat sabar ini, “Allah telah menyebutkan sifat sabar di 90 tempat di dalam kitab-Nya” kataImam Ahmad. Hal ini tentunya menunjukan pentingnya sifat  sabar dan keutamaannya.
Rasulullah juga bersabda,
عَجَباً لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أِصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkara seorang muslim, apabila ia mendapatkan kenikmatan maka ia bersyukur dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Danapabila ia tertimpa suatu musibahia pun bersabar dan itu pun merupakan suatu kebaikan baginya” [H.R. Muslim dari sahabat Shuhaib Ar-Rumy]. Beliau juga bersabda,
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصْبِرْهُ اللهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah akan membuatnya bersabar. Tidaklah seseorang yang diberi dengan suatu pemberian yang lebih berharga dan lebih luas dari pada kesabaran” [H.R. Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudry]. Ayat dan hadits ini menunjukan bahwa sabar termasuk perangai seorang mukmin. Dengan kata lain, seorang mukmin harus memiliki sifat sabar. Oleh karena itulah, para ulama juga menegaskan bahwa sabar termasuk dari keimanan.
Lebih jauh, marilah kita simak ucapan para generasi terbaik umat ini mengenai sifat sabar ini. ‘Umar bin Al-Khatthab mengatakan, “ Kami mendapati kehidupan terbaik kami dengan kesabaran”.
‘Ali bin Abi Thalib juga berkata, “Kedudukan sabar di dalam keimanan bagaikan kedudukan kepala bagi jasad.” Kemudian beliau mengangkat suaranya seraya mengatakan, “Ketahuilah!! Sesungguhnya tidak ada keimanan bagi siapa pun yang tidak memiliki kesabaran”.
Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, seorangulama dan penguasa yang sholeh, berkata, “Barang siapa yang diberi oleh Allah suatu nikmat akan tetapi kemudian Allah cabut nikmat tersebut, namun Allah ganti dengan sifat sabar, melainkan apa yang Allah ganti tersebut lebih baik daripada apa yang Ia cabut (yakni kesabaran tersebut lebih baik daripada nikmat yang Allah ambil) ”. Inilahbeberapa untaian perkataan para ulama yang berkaitan dengan keutamaaan sifat sabar.
Hakekat sabar dan pengertiannya
Secara bahasa sabar bermakna menahan. Yakni, menahan jiwa kita dari terlampau bersedih atau bermuram durja, menahan lisan dari berkeluh kesah dan menahan anggota badan dari melakukan hal-hal yang Allah larang.
Memang, bersedih ketika tertimpamusibah merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, menjadi terlarang jika kemudian menyebabkannya melakukan apa-apa yang kita sebutkan tadi. Ia terlampau bersedih sehingga terus menerus dalam kesedihan atau bahkan menjadi sesorang yang putus asa dari rahmat-Nya, sehingga ia menjadi seperti yang sering digambarkan “mati seganhidup tak mau”.
Berkeluh kesah dalam artian ia terus mengucapkan hal-hal yang semestinya tidak boleh ia katakan. Seperti mencela diri sendiri dan terus menyalahkannya. Atau bahkan - na’udzubillah- ia mencela takdir dan tidak terima dengannya. Ia menganggap Allah telah berbuat tidak adil padanya. Menampar pipi, mengoyak pakaian, dan mengacak-acak rambut juga sebagian contoh hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan-perbuatan ini teramat sering terjadi ketika seseorang meratapi mayit.
Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam (artinya), “Bukan termasuk dari golongan kami siapapun yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah ” [H.R. Bukhari dan Muslim]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Allah  melaknat para wanita yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian dan berseru dengan seruan kecelakaan dan kebinasaan ”. [H.R. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].
Bahkan Rasulullah bersabda, “Apabila wanita yang meratapi mayit itu tidak bertaubat dari perbuatannya, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dalamkeadaan ia mengenakan pakaian dari tembaga yang meleleh dan gaun dari penyakit kudis .” [H.R. Muslim].
Macam-macam sabar
Para pembaca yang mulia, para ulama telah menerangkan bahwa sabar itu ada tiga macam:
Sabar ketika tertimpa musibah -hal ini telah lalu penjelasannya -,
Sabar ketika melakukan ketaatan, dan
Sabar ketika menjauhi larangan.
Telah kita ketahui bersama bahwaiblis dan bala tentaranya tidak akan pernah diam untuk menggelincirkan anak Adam. Godaan mereka akan semakin besar ketika mereka tahu para manusia tenggelam di dalam ketaatan kepada-Nya. Berbagai macam cara dan srategi akan ia kerahkan demi tercapainya ambisijahat yang ia idam-idamkan. Seseorang yang bertakwa kepada Allah yang senantiasa berusaha taat dan patuh terhadap titah Rabbdan Rasul-Nya, pastilah harus menyiapkan bekal kesabaran yangbesar untuk menahan serangan dan gempuran iblis dan bala tentaranya. Semakin ia mendekat kepada Allah, semakin besar pula kesabaran yang harus ia miliki.
Para rasul, sebagai manusia terbaik di dalam ketaqwaan dan ketaatan pun tak lepas dari gangguan-gangguannya. Dan kisah-kisah mereka telah kita ketahui. Cobaan dan rintangan tidak membuat mereka goyah untuk tetap melaksanakan beban yang telah dipikulkan untuk mereka. Begitu pula orang-orang yang berusaha meniti jalan para Rasul. Mereka pun tak lepas dari gangguan Iblis dan bala tentaranya. Semakin mereka berusaha meniti dan mengikuti jalan para Rasul, semakin besar pula ujian yang menantangnya. Jika begitu, kesabaran mutlak dibutuhkan di dalam setiap keadaan. Allah lah tempat meminta tolong.
Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam (artinya), “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, kemudian yang serupa dengan mereka. Setiap manusia akan diuji sesuai kadar keimanannya. Apabila ia memiliki keteguhan di dalam agamanya, maka ujiannya akan semakin berat. Begitu pula kalau ia memiliki kelembekan di dalam keimanannya,maka ia akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Senantiasa ujian bertubi-tubi menimpa seorang hamba, sampai ujian meninggalkannya berjalan di muka bumi ini dan tidak ada sedikit pun dosa yang tersisa padanya” [H.R. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan yang lainnyadan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].
Ganjaran bagi para penyabar
Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa kesabaran merupakan sikap terpuji yang seharusnya dimiliki setiap muslim. Sabar juga membutuhkanusaha yang berat untuk merealisasikannya. Karena itulah, Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi para penyabar. Allah berfirman, “Sesungguhnya hanya para penyabarlah yang pahala mereka akan diberikan tanpa batas.” [Q.S. Az-Zumar:10].
Di ayat yang lain Allah mengabarkan ganjaran bagi para penyabar, “ Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatpetunjuk.” [Q.S. Al Baqarah: 157].
Inilah beberapa ganjaran dan pahala yang Allah persiapkan bagi hamba-Nya yang bersabar. Lantas,apakah kita sudah termasuk orang yang bersabar?
Sedikit renungan
Para pembaca yang mulia, ketika musibah menimpa kita, hendaknya kita benar-benar waspada jangan sampai kita berucap dengan perkataan yang membuat Allah murka kepada kitadan menghilangkan pahala yang Ia persiapkan. Allah Maha Adil danMaha Bijaksana. Segala yang dilakukan oleh Allah pasti dilakukan di atas hikmah. Allah berhak untuk memberi dan mengambil kembali segala milik-Nya. Allah tidak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-Nya akan tetapi para makhluk lah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Hendaknya orang yang tertimpa musibah menyadari bahwa kesedihannya tidak akan menyingkirkan atau merubah apa yang telah terjadi. Atau bahkan akan semakin bertambah musibahnya. Kesedihannya yang begitu mendalam telah membuat Allah murka, para syaithan bersorak-sorai, amalan-amalannya gugur, dan melemahkan diri sendiri. Semua ini juga musibah, justru ini merupakan musibah yang lebih besar. Kalau begitu, ini namanya membangun banyak musibah di atas satu musibah yang menimpanya. Hendaknya ia juga tahu bahwa meskipun kesedihannya telah mencapai puncak akhirnya ia harus bersabarpula. Hal ini tidak akan mengubah apapun kecuali menambah kemurkaan jika ditambah dengan melakukan apa yang Allah larang. Tentulah ini bukan perbuatan terpuji.
Rasulullah bersabda, “ Kesabaranyang hakiki itu adalah yang berada ketika pertama terjadinya musibah ” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Datangnya musibah secara tiba-tiba, memang dapat menyebabkan kesedihan yang menggoncang. Apabila ia bersabarpada kali pertama terjadinya musibah, maka kedahsyatan dan kekuatan musibah itu akan hilang dan lebur sehingga ia akan mudahuntuk bersabar pada hal-hal yang selanjutnya.
Dahulu para ulama mengatakan, “ Kalau kamu bersabar, berarti engkau hanya tertimpa satu musibah. Kalau kamu tidak bersabar, berarti kamu tertimpa dua musibah ”.
Seorang yang arif akan menjadikan musibah yang menimpanya sebagai ladang untuk menuai banyak pahala. Dengan musibah tersebut ia berkesempatan untuk bersabar, mengucapkan istirja’ ( innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un ), dan ibadah lain yang terkadang tidak kita bayangkan. Yang mana ini tergantung pada tingkatan ilmuyang ia punyai. Maka, marilah kitajadikan musibah ini sebagai ladang pahala dan cambukan untuk memperbaiki diri-diri kita.
Walillahil hamdu ‘ala kulli hal wallohu a’lam bish showab.



Marah adalah satu hal yang tidak bisa lepas dari seorang insan. Perangai ini bisa menjadi sebuah perangai yang buruk apabila tidak terbimbing dengan benar. Namun sebaliknya, bisa jadi marah ini menjadi sebuah ibadah besar bila kita meletakkannya sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, Allah memberikan petunjuk bagaimana seharusnya seorang insan menyikapi sifatnya ini. Barangsiapa mengikuti petunjuk ini, niscaya dia tidak akan tersesat. Di sisi lain, kebaikan, pahala, dan ganjaran akan dia tuaibaik di alam dunia ataupun di akhirat kelak.
Allah berfirman tatkala menyebutkan sifat orang-orang yang diberi janji surga (yang artinya) “ … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang … ” [Q.S. Âli ‘Îmrân:134].
Simaklah pula sebuah sabda Nabi ketika mendefinisikan kata ‘kekuatan’ “Bukanlah orang yang kuat itu orang yang kuat dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah .” [ H.R. Al-Bukhârî dan Muslim]
Beberapa Kiat Menyikapi Kemarahan
Para pembaca yang budiman, selain memberikan anjuran untuk menjaga hati dari kemarahan, Allah dan Rasul-Nya juga memberikan pedoman bagi umat Islam ini kiat-kiat untuk menaklukan kemarahan yang menerpa hati. Berikut ini beberapa kiat yang terambil dari Al-Qur`ân dan hadits untuk menenangkan hati yang sedang tertimpa kemarahan:
1. Ber- ta’awwudz (meminta perlindungan) kepada Allah I dari syaithan.
Kemarahan merupakan perkara yang sangat disukai syaithan. Dengan sebab marah ini, seseorang bisa kalap hingga membunuh jiwa manusia yang tidak boleh ditumpahkan darahnya, ataupun bahaya-bahayalain yang merupakan buntut dari perangai ini. Karenanya, Allah dan Rasul-Nya memberikan bimbinganuntuk berlindung dari syaithan saat marah ini melanda.
Allah telah berfirman di dalam Al-Qur`ân:
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٣٦)
“ Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. ” [Q.S. Fushshilat:36].
Rasulullah r bersabda:
إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ سَكَنَ غَضَبُهُ
“Apabila marah kemudian berkata ‘ a’ûdzubillâh ’ maka ia akan tenang dari kemarahannya.” [H.R. Ibnu ‘Adi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.1376]
2. Sikap Al-Ĥilm .
Sikap ĥilm adalah sikap pertengahan antara sikap marah dan sikap masa bodoh. Seseorang yang mengikuti kemarahannya tanpa akal dan kesabarannya ia telah mengikuti sikap yang rendahan. Demikian juga sebaliknya, jika ia ridha dengan penganiayaan dan hancurnya keadaan dirinya, ia berada dalam kerendahan pula.
Alhasil, sikap ĥilm ini akan mencegah kita terjatuh dalam dualembah kerendahan ini. Sikap ĥilm juga akan mewariskan sikap tenang ketika marah, sehingga diabisa berfikir jernih kendati marah menerpanya.
Rasulullah r bersabda kepada Asyaj ‘Abdul Qais yang maknanya,
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ
“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua perkara yang dicintai Allah: ĥilm dan tidak tergesa-gesa.” [H.R. Muslim dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallahu ‘anhumâ ].
3. Sikap sabar dan memaafkan.
Allah I telah berfirman:
خُذِ الْعَفْوَوَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (١٩٩)
“ Maafkanlah dan perintahkanlah kepada yang baik serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. ” [Q.S. Al-A’râf:199].
Allah I juga berfirman:
وَلا تَسْتَوِيالْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَأَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)
“ Balaslah dengan yang lebih baik , maka tiba-tiba orang yang mulanya ada permusuhan antara dirimu dan dia menjadi seorang kawan yang dekat. ”[Q.S. Fushshilat:34].
Allah I berfirman yang artinya, “ Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada . Apa kalian tidak ingin Allah memaafkan kalian? Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. ” [Q.S. An-Nûr:22].
Marilah kita tengok sebuah teladan dari Rasulullah r. Simaklahpenuturan Ibnu Mas’ûd t, beliau mengatakan, “Seakan-akan aku melihat Nabi r menghikayatkan salah seorang dari para nabi. Kaumnya memukul beliau hingga beliau berdarah, namun beliau mengusap darahdari wajahnya dan berkata, ‘Ya Allah! Ampunilah kaumkukarena mereka kaum yang tidak mengetahui.’ ” Mutaffaq ‘alaih .
4. Duduk jika sedang berdiri dan berbaring jika sedang duduk.
Rasulullah r bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ
“Apabila salah seorang dari kalian marah dan dia sedang berdiri, maka duduklah . Jika dengan hal itu bisa meredakannya, maka itulah [yang dimaukan]. Namun, apabila hal itubelum bisa meredakannya, maka berbaringlah .” [H.R. Abû Dâwûd dan Aĥmad, dishahihkan oleh Al-Albani].
Sikap Marah Kala Terjadi Pelanggaran Dalam Agama Allah
Telah kita singgung sebelumnya bahwa kemarahan yang diletakkan pada tempat yang benar akan membawa pemiliknya kepada ridha Allah. Maka, seorangmuslim yang baik tidak hanya menahan amarahnya, namun dia juga menempatkan sesuai porsinya agar mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Rabbnya.
Perlu diketahui, perasaan benci karena Allah merupakan tolak ukur keimanan seseorang. Rasulullah r bersabda (yang artinya), “Tali keimanan yang paling kuat: cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [H.R. Ath-Thabarani dari Ibnu Mas’ûd t, Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih” dalam Shaĥîĥ At-Targhîb wat Tarhîb ].
Hal ini juga ditegaskan oleh para shahabat beliau. Di antaranya adalah Ibnu ‘Abbâs radhiyallahu ‘anhumâ , beliau mengatakan, “Barangsiapa mencintai karena Allah, benci karena Allah, berloyalitas karena Allah, bermusuhan karena Allah [maka dia telah mendapatkan kewalian]; kewalian Allah (yaitu pertolongan, bantuan, kecintaan, dll) hanya akan didapat melalui perkara ini. Seorang hamba tidak akan merasakan manisnya rasa iman -meski banyak shalat dan puasanya- hingga dia menjadi seperti hal ini.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr Ath-Thabari dalam tafsir beliau].
Dengan dasar kebencian karena Allah inilah, Rasulullah r, para shahabat beliau, serta para pengikut mereka tidak meninggalkan sikap marah secaramutlak. Marilah kita tengok sebuah kisah yang terjadi sewaktuRasulullah r masih hidup. Ketika itu seorang sahabat yang mulia, Abû Dzarr t, memanggil seseorang, “Wahai anak dari perempuan hitam!” katanya. Rasulullah r pun mengingkari panggilan Jahiliyah ini dan menegurnya dengan keras, “ Apaengkau mencacatnya dengan sebab ibunya?! Sungguh, engkauadalah orang yang memiliki sifat Jahiliyah.”
Contoh lain, dengarlah apa yang dituturkan oleh Abû Wâqid Al-Laitsi, sebuah kisah yang termaktub di dalam Sunan At-Tirmidzi, Musnad Aĥmad, serta kitab-kitab hadits yang lainnya, bahwasanya ketika Rasulullah r berjihad menuju Ĥunain, mereka melalui sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut “Dzâtu Anwâth”, orang musyrik biasa menggantungkan senjata mereka untuk mencari barokah darinya, selain itu mereka juga biasa beri’tikaf (baca: semedi) di sana. Sebagian dari kaum muslimin yang baru saja masuk Islam pun mengatakan, “Wahai Rasulullah. Buatkanlah untuk kamiDzâtu Anwâth sebagaimana mereka juga memiliki Dzâtu Anwâth.” Rasulullah r tidak kemudian mendiamkan kemungkaran besar ini karenamemaklumi bahwa mereka iniadalah orang yang baru saja masuk Islam, beliau justru mengatakan (artinya), “Subĥânallâh!! Demi Dzat Yang jiwaku berada di Tangan-Nya!! Kalian mengatakan seperti ucapan Bani Israil kepada Mûsâ, ‘ Jadikanlah bagi kami sebuah sesembahan, sebagaimana mereka memiliki banyak sesembahan. ’ [Q.S. Al-A’râf:138]!!! ” [Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan “Shahih” di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi ].
Simak pula apa yang diriwayatkanoleh Al-Imam Muslim dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhumâ , beliau menceritakan bahwasanya suatu siang Rasulullah r mendengar dua orang bertikai mengenai suatu ayat dalam Al-Qur`ân, Rasulullah r pun keluar dan nampak raut kemarahan pada wajahnya , sembari mengatakan yang maknanya, “Sesungguhnya kaumsebelum kalian binasa karena perselisihan mereka mengenai kitab suci mereka.”
Adapun contoh dari para shahabat,maka silakan cermati ketika ‘Abdullah bin ‘Abbâs radhiyallahu ‘anhumâ mendapati ucapan seseorang lebihdidahulukan daripada sabda Rasulullah r, beliau pun murka, “ Hampir-hampir turun kepada kalian hujan batu dari langit!! Aku katakan, ‘Rasulullah r bersabda…’ namun kalian [menentangnya dengan] mengucapkan, ‘Abû Bakr dan‘Umar mengatakan demikiandan demikian’ ?! ” [Riwayat ‘Abdurrazzâq dalam Al-Mushannaf]
Demikianlah saudaraku, betapa indahnya keadaan seseorang yang berhias dengan aturan syariat. Dia akan senantiasa berhias dengan kebaikan dalam perkara apapun. Allahu a’lam bish shawâb .

Oleh: Abu Muhammad Farhan
Hiruk pikuk kehidupan dunia dengan ketatnya kompetisi di segala bidang banyak menjadikan manusia lupa atau pura-pura lupa aturan. Yang kuat memakan yang lemah, yang kaya ingin mendapatkan segalanya, yang lain berusaha menjatuhkan, dan begitu seterusnya. Kondisi seperti ini sangat membentuk tabiat manusia menjadi orang-orang yang buas dan menghalalkan segala cara apabila tidak berbekal dengan ketakwaan kepada Allah ta’ala .
Pembaca, syariat Islam yang mulia telah menjelaskan sikap tepat bagi seorang muslim dalam menghadapi fenomena yang menyedihkan ini. Marilah kita simak bersama bagaimana Islam memberikan solusi sekaligus proteksi dari kebuasan nafsu yangbanyak melanda umat.
Tundukkan Pandangan dari Dunia
Dunia merupakan kenikmatan yang menipu. Betapa banyak manusia terjerembab ke dalam jebakannya yang membinasakan. Tak jarang kita jumpai manusia berkubang di dalam lumpur dosa tak lain beralasan mengejar dunia. Maka, syariat ini memberikan dorongan kepada umatnya untuk tidak mengumbar pandangannya terhadap dunia ini. Yang mana, terlalu banyak melihatdunia dengan pandangan takjub merupakan salah satu sebab tamaknya seseorang terhadap dunia.
Marilah kita perhatikan bahwa Allah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana telah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar bersama orang-orang yang senantiasa berdoa kepada Rabbnya dan tidak menoleh kepada perhiasan dunia ini. Allah ta’ala berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (٢٨)
“Dan sabarkanlah dirimu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb merekadi pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikutiorang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Q.S. al Kahfi : 28]
Hal ini juga terkandung di dalam firman-Nya pula:
وَلا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (١٣١)
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” [Q.S. Thaha :131]
Dalam ayat ini Allah perintahkan rasul-Nya secara khusus dan seluruh kaum muslimin secara umum untuk tidak tergiur, terlena,dan tenggelam dalam kehidupan dunia yang menyebabkan lalai dari kampung akhirat.
Bahkan, dalam ayat lain Allah ta’ala mencela mereka yang mementingkan kehidupan dunia dan lupa terhadap akhiratnya:
كَلا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (٢٠) وَتَذَرُونَ الآخِرَةَ (٢١)
“Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kalian (hai manusia) mencintai kehidupan dunia.*. Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” [Q.S. al-Qiyamah 20-21].
Inilah bimbingan dari Allah ta’ala yang Maha Mengetahui maslahat makhluk-Nya  dan inilah hakekat zuhud.
Apa itu ‘Zuhud’?
Pembaca sekalian -semoga Allah ta’ala merahmati kita semua-, lalu apakah sebenarnya zuhud itu?Apakah zuhud berarti meninggalkan dunia ini sama sekali, memakai pakaian yang jelek dan compang-camping sebagaimana dimaknakan oleh sebagian orang-orang sufi?
Ibnu Manzhur di dalam kitab beliau, Lisanul ‘Arab menerangkan bahwa zuhud adalah kebalikan dari mencintai dunia dan tamak terhadapnya.
Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah , beliau mengatakan bahwa maksud dari zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat .
Sehingga, orang yang zuhud tidak berarti miskin, tidak bekerja, ataubahkan menelantarkan keluarganya. Tetapi mereka yang mampu meninggalkan perkara-perkara duniawi yang tidak bermanfaat di akhirat.
Dunia adalah ujian
Di antara yang harus diingat agar kita berhati-hati dan dan tidak larut dalam persaingan dunia ini, kemudian lupa terhadap akhirat adalah kita harus tahu bahwa dunia ini adalah ujian semata dan keindahan yang menipu. Allah ta’ala jadikan dunia ini untuk menguji para hamba-Nya, siapa yang paling baik amalannya. Kemudian, dengan rahmat dan keutamaan-Nya, mereka berhak mendapatkan surga-Nya;
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الأرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلا (٧)
“ Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. ” [Q.S. al-Kahfi:7].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ
“ Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian silih berganti di atasnya untuk melihat bagaimana amalan kalian, maka bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan dunia dan wanita. Karena, fitnah pertama Bani Israil adalah pada wanita .” [H.R. Muslim dari Abu Sa’id radhiyallahu ’anhu ].
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dunia sebagai sesuatu yang manis dan hijau. Artinya, dunia ini enak, indah, lagi menggiurkan orang yang berada di atasnya. Allah ta’ala telah menjadikannya sebagai ujian bagi manusia, bagaimana mereka beramal dan bagaimana mereka bersikap terhadap dunia tersebut. Ketika mereka mengambil dengancara yang benar, menyalurkan pada hal kebajikan, dan mereka zuhud dari perkara-perkara yang bermudharat di akhirat, maka mereka lah yang beruntung.
Ayat lain yang mengemukakan hakekat dunia adalah firman Allah ta’ala :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (٢٠)
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia inihanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Layaknya hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menguning kemudian menjadi hancur. Sedang di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu .’ [Q.S. al-Hadid:20]
Demikianlah, Allah menyebutkan bahwa tidaklah dunia ini kecuali permainan yang menipu. Sehinggaorang yang cerdas -setelah Allah beri taufiq padanya- adalah orang yang mengerti hakekatnya dan menyikapinya sebagaimana mestinya.
Dunia = rendah
Pembaca sekalian -semoga Allah merahmati kita semua- tidak kalah pentingnya untuk kita ketahui agar kita bisa memiliki sifat zuhud adalah kita harus mengetahui pula tentang betapa rendahnya dunia dibandingkan akhirat. Betapa banyak ayat yang menegaskan permasalahan ini, bukankah kita sering mendengar firman-Nya
وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (١٧)
“ Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal .” [Q.S. Al A’la: 17]
Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali menerangkan hal tersebut di dalam haditsnya. Di antaranya, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Al-Mustaurid radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah bersabda, “ Tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti salah seorang di antara kalian yang memasukan jarinya ini ke dalam samudera -Yahya bin Yahya, salah seorang penyampai hadits mengisyaratkan dengan jari telunjuknya- maka lihatlah air yang menempel pada jarinya ’.
Jabir bin Abdilah radhiyallahu ’anhu pernah mengisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati suatu pasar dan kaum muslimin berada di kanan kirinya. Ketika itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati bangkai seekor anak kambing yang cacat telinganya. Maka beliau memegang telinganya kemudian bersabda, “Siapa di antara kalian yang maumembelinya dengan satu dirham?” Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, kita tidak mau membelinya dengan harga sepeser pun. Untuk apa barang ini?” Beliau bersabda, “Lalu apakah ada di antara kalian yang mau diberi dengan cuma-cuma?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, seandainya pun anak kambing itu hidup, maka ia kambing yang cacat karena telinganya yang kecil lantas bagaimana lagi sedangkan sekarang ia sudah menjadi bangkai?” [H.R. Muslim].
Subhanallah…! Demikianlah hakekat dunia yang digambarkan oleh teladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lantas, apakah kita rela mencurahkan seluruh usaha, memeras keringat, membanting tulang, bahkan sampai mengorbankan segala-galanya, menzhalimi saudaranya, dan melanggar aturan-aturan Allah demi suatu yang tidak bernilai bahkan hina dina. Di lain pihak, dia korbankan masa depannya yang lebih kekal dan kenikmatan yang tidak terkira.
Berkaca Dengan Sang Teladan
Cobalah kita sedikit menengok bagaimana keadaan gaya hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , pemimpin seluruh anak Adam. Beliau lah orang yang paling mengerti hakekat dunia dan akhirat, beliau pula orang yang paling mengerti kadar masing-masing, cara menghargainya, dan bagaimana menyikapinya. Dikisahkan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Umar menceritakan sepenggal kondisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Ketika itu beliau berbaring di atas tikar, aku pun duduk. Beliau pun menurunkan kainnya. Dan beliau tidak memiliki baju selain kain tersebut. Ternyata tikar tersebut telah membekas pada punggung beliau. Aku melihat lemari beliau, di dalamnya hanya ada segenggam tepung seukuran satu sha’ (sekitar 2,5 atau 3 kg),sejenis daun untuk menyamak di pojok ruangan dan selembar kulit yang telah disamak.” Umar melajutkan, “Maka mengalirlah air mataku.” Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai ‘Umar?” Aku menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis wahai Nabi Allah, sedangkan tikar ini telah membekas di punggung Anda. Danlemari ini, aku tidak melihat kecuali apa yang aku lihat. Padahal, raja Romawi dan Persia di sana berada di tengah kebun-kebun buah dan taman-taman mereka. Sementara Anda adalah utusan Allah dan pilihan-Nya dan seperti ini [isi] lemari Anda.” Beliau pun menjawab, “Wahai ‘Umar, tidakkah engkau rela akhirat bagi kita dan bagi mereka dunia!?”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu juga menuturkan di dalamsebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah bahwasuatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidur diatas tikar. Ketika bangun, tikar tersebut membekas di punggung beliau. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan kasur untuk Anda?” Beliau menjawab, “Apa urusanku dengan dunia, tidaklah aku di dunia ini kecuali seperti seorang musafir yang  berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian beranjak pergi meninggalkannya”.
Allahu akbar! Demikianlah gaya hidup teladan kita, yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah .” [Q.S. al-Ahzab:21].
Lantas, masihkah kita berambisi untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya akan kita tinggalkan? Tidakkah kita mencontoh suri teladan yang merupakan makhluk terbaik? Marilah kita renungkan hal ini.
Penutup
Pembaca sekalian -semoga Allah merahmati kita semua- kita yang lemah ini mungkin sangat sulit untuk persis mencontoh gaya hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , tetapi paling tidak dari uraian di atas cukuplah sebagai motivasi bagi kita untuk tidak larut dalam kehidupan dunia. Kita ambil dunia ini dengan cara yang halal. Dan kita belanjakan pada perkara kebajikan. Orang yang semacam ini niscaya akan mendapatkan kecintaan Allah dan makhluk-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya oleh seseorang mengenai sebuah amalan yang dapat mendatangkankecintaan Allah dan manusia, beliau menjawab, “ Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu ” [H.R. Ibnu Majah dari sahabat Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ’anhu dan dihasankan al Albani]
Wallahu a’lam.
Mutiara Hadits
Dari Abu Umamah radhiyallahu ’anhu , beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نَفَثَ رُوْحُ الْقُدُسِ فِيْ رَوْعِيْ أَنَّ نفْسًا لَنْ تَخْرُجَ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلا يَحْمِلَنَّكُمِ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنَّ اللهَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلا بِطَاعَتِهِ
“Ruh al-Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwasanya ruh seseorang tidak akan keluar dari dunia ini hingga sempurna ajalnya dan lengkap rezekinya [yang ditetapkan baginya]. Maka, carilah rezeki dengan baik dan janganlah karenamerasa rezekinya lambat membuat kalian mencarinya dengan memaksiati Allah. Karena, apa yang di sisi Allah tidak didapatkecuali dengan ketaatan kepada-Nya.”
[H.R. Ath-Thabarani, asy-Syaikh al-Albani mengatakan di dalam ShahihulJami’, “Shahih”]
Shalawat Kepada Nabi Segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan atas Rasul kita, Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang senantiasa mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat. Amma ba’d: Sebagai kaum muslimin, kita tentu sering sekali bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena kita tahu bahwa shalawat adalah salah satu bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , Rasul yang telah membawa sinar Islam, agama keselamatan yang sempuna. Di samping itu, shalawat adalah sebuah ibadah yang mulia. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kaum mukminin untuk bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Allah sebutkan bahwa Allahdan para malaikat bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦) “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” [Al-Ahzab:56] Arti Shalawat Dan Salam Atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pembaca sekalian, semoga Allah merahmati kita semua, lantas apa makna shalawat dan salam atas Nabi? Imam Al-Bukhari t menyebutkan di dalam kitab shahih beliau penafsiran seorang ulama tabi’in,Abu ‘Aliyah t, beliau menjelaskan,“Maksud dari shalawat Allah kepada beliau adalah pujian Allah terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para malaikat. Sedangkanmaksud shalawat malaikat dan yang lainnya kepada beliau adalah mereka memohon kepada Allah agar senantiasa mencurahkan shalawat kepada beliau.” Adapun makna salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam , diterangkan oleh Al-Majd Al-Fairuz Abadi dalam kitab beliau “Ash-Shalaatu wal Busyaru fish Shalati ‘ala Khairil Baysar” , “As-Salam -yang manaini adalah salah satu nama dari nama-nama Allah- atasmu, maksudnya Engkau, wahai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan lepas dari kebaikan dan barakah serta akan selalu selamat dari kecelakaan dan kesengsaraan.Karena, nama Allah ta’ala hanyalah disebutkan kepada sesuatu yang diharapkan terkumpulkan padanya seluruh kebaikan dan barakah serta terlepasnya dari sesuatu kekurangan dan kerusakan. Bisa juga makna as-salam di sini adalahas-salamah (keselamatan), jadi maknanya adalah semoga ketetapan Allah terhadapmu, wahaiNabi, adalah keselamatan, yakni selamat dari celaan dan kekurangan.” Shalawat Yang Paling Afdhal Shalawat yang paling utama dan paling sempurna adalah shalawat yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan sendiri kepada parasahabat ketika mereka bertanya. Dalam hadits-hadits berikut ini kitabisa melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sekedar mengajarkannya, bahkan beliau memerintahkannya. Ini menunjukkan bahwa lafal-lafal tersebut adalah yang paling utama dan sempurna. Karena, beliau tidaklah memilih untuk diri beliau kecuali yang mulia dan sempurna. Demikian penjelasan dari Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari . Sebagian lafal-lafal shalawat yang paling baik adalah shalawat yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dalam hadits-haditsberikut ini: Dari ‘Abdurrahman bin Abu Laila mengatakan, “Sahabat Ka’b bin ‘Ujrah pernah menemuiku dan mengatakan, maukah engkau kuberi sebuah hadiah yang saya dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”. Saya pun menjawab, “Tentu, berikanlah hadiah tersebut kepadaku.” Ia pun mengatakan, saya pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, bagaimana bershalawat atas kalian ahlul bait? Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada kita cara mengucapkan salam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, ucapkanlah: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ “Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha TerpujiLagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia.” [H.R. Al-Bukhari]. Dari Abu Sa’id Al-Khudri z, beliau mengatakan, “Kami bertanya kepada Rasulullah `, wahai Rasulullah, [yang Anda ajarkan] ini adalah cara bersalam atasmu, lalu bagaimana kami bershalawat? Beliau pun menjawab, “Ucapkan: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ “Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim. Dan limpahkanlah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.” [H.R. Al-Bukhari] Dari Abu Humaid As-Sa’idi z, beliau mengatakan, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, bagaimana bershalawat atasmu? Beliau pun menjawab: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِوَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِوَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ “Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad, istri-istri, dan keturunan beliau, sebagaimana Engkau limpahkan kepada keluargaIbrahim. Dan limpahkanlah barakah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunan beliau, sebagaimana Engkau limpahkan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha TerpujiLagi Maha Penyayang.” [H.R. Al-Bukhari]. Ini adalah sebagian shalawat yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ShahihAl-Bukhari, masih ada shalawat-shalawat lain yang diriwayatkan dari beliau yang belum bisa kami sebutkan. Sebagaimana kita jelaskan di muka, bershalawat dengan lafal-lafal yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih baik daripada shalawat yang lain. Ada satu hal yang patut kita perhatikan dari riwayat di atas. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang lafal shalawat yang benar di dalam hadits-hadits yang lewat, hal ini menunjukkan betapa besarnya semangat mereka untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Yang mana semangat ini kian memudar dalam barisan kaum muslimin. Kita dapatisebagian muslimin lebih menyukai shalawat-shalawat yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Shalawat Yang Paling Ringkas Pembaca sekalian, semoga Allah merahmati kita semua, Imam An-Nawawi mengatakan dalam kitab “Al-Adzkar”, “Apabila kalian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , hendaknya kalian menyebutkan shalawat dan salam sekaligus. Jangan menyebutkan salah satunyasaja, ‘ shallallahu ‘alaihi ’ saja atau ‘ ’alaihis salam ’ saja. Dari penjelasan di atas bisa dipahami bahwasanya lafal shalawat yang paling ringkas hendaknya terdiri dari dua bagian: shalawat dan salam. Janganlah kitamengurangi salah satunya sebagaimana jelas dalam keterangan Imam An-Nawawi di atas. Hal ini sejalan dengan firman Allah ta’ala : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦) “Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan salam kepadanya .” [Al-Ahzab:56]. Dua lafal shalawat dan salam yang ringkas dan seringkali kita dengar, yaitu shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘alaihish shalatu was salam (semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau) adalah contoh shalawat yang baik karena telah mencakup shalawat dan salam sekaligus. Namun, yang harus kita perhatikan di sini, seringkali orang menyingkat dengan kata ‘saw’ di dalam penulisan. Sebenarnya, bagaimana bimbingan para ulama mengenainya? Banyak ulama yang menganjurkan untuk menghindari penyingkatan shalawat menjadi beberapa huruf-huruf. Di antaranya adalah Imam Ibnu Shalah dalam kitab beliau ‘Ulumul Hadits , beliau mengatakan, “Seyogianya seorang penulis hadits selalu menjaga penulisan shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut beliau. Janganlah dia bosan mengulang-ulang shalawat ketika mengulang penyebutan beliau. Karena, dalam penulisan shalawat dan salam tersebut terdapat faedah yang besar…” Kemudian beliau melanjutkan, “… Dan hendaknya dalam menulis shalawat menghindari dua hal: ditulis kurangdengan menyingkat menjadi dua huruf dan sejenisnya, atau menulisnya dengan mengurangi makna, seperti tanpa menulis ‘salam’.” Keutamaan shalawat Pembaca sekalian, semoga Allah merahmati kita semua, di antara perkara yang menunjukkan bahwa shalawat merupakan amalan yang besar adalah banyaknya keutamaan dan pahala yang dipersiapkan bagi yang melakukannya sebagaimana telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terangkan di dalam hadits-hadits beliau. Di antaranya beliau bersabda: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ أُمَّتِيْ صَلاَةً مُخْلِصاً مِنْ قَلْبِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَرَفَعَهُ بِهَا عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَكَتَبَ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ بِهَا عَشْرَ سَيِّئَاتٍ “Siapa saja dari umatku yang bershalawat atasku dengan ikhlas dari dalam hatinya, maka Allah akan memujinya sepuluh kali dan mengangkat derajatnya sepuluh derajat, ditulis dengannya sepuluh kebajikan dan dihapuskan kesalahannya sepuluh kesalahan.” [H.R. An-Nasa`i dari sahabat Abu Burdah, Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan, “Derajatnya hasan shahih” di dalam Shahih At-Targhib ]. أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً “Sesungguhnya manusia yang paling dekat padaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak mengucapkan shalawat kepadaku.” [H.R. At-Tirmidzi dari sahabat Ibnu Mas’ud, dilemahkanoleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Dha’if At-Tirmidzi , kemudian beliau rujuk dari pelemahannya ini dan mengatakan di dalam Shahih At-Targhib, “Hasan lighairih”]. Di sisi lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang tidak mau bershalawat atas beliau. Beliau bersabda: الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصِلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil adalah orang yang aku disebutkan di sisinya namun dia tidak bershalawat kepadaku.” [H.R. At-Tirmidzi dari sahabat Husain bin ‘Ali g dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih At-Targhib ] مَنْ نَسِىَ الصَّلاَةَ عَلَىَّ خَطِئَ طَرِيقَ الْجَنَّةِ “Barangsiapa lupa bershalawat atasku, maka dia telah terlewatkandari salah satu jalan menuju surga.” [H.R. Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani]. Penutup Pembaca sekalian, semoga Allah merahmati kita semua, di antara bukti cinta kita terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tunduk patuhnya kita terhadap perintah beliau. Dalam ibadah shalawat ini pula, sepantasnya seorang mukmin mengikuti ajaran beliau, tidak meremehkan amalan ibadah ini dan tidak pula berlebihan dalam bershalawat kepada beliau. Sebagaimana tidak pantas pula kitamenyanjung beliau melebihi kadar beliau sebagai hamba sekaligus Rasul. Karena, beliau tidak menyukai untuk disanjung melebihikadar beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “Janganlah kalian berlebihan dalam menyanjungku sebagaimanaorang Nasrani berlebihan dalam menyanjung Isa bin Maryam. Saya adalah hamba-Nya. Maka katakanlah saja, ‘Hamba Allah dan rasul-Nya’.” [H.R. Al-Bukharidari ‘Umar bin Al-Khaththab]. Dan hendaknya kita berhati-hati dari shalawat yang banyak tersebar dalam masyarakat. Di mana, sebagian shalawat-shalawatmemiliki kandungan yang terlalu berlebihan dalam memuji beliau. Bahkan, sebagiannya mengandung kesyirikan dengan memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada beliauatau menyejajarkan beliau dengan Allah. Sebagai contoh dari keberlebihan ini adalah penggambaran bahwa beliau lah yang mengangkat kesulitan dan mengabulkan hajat, yang mana ini semua adalah hak Allah semata, tidak dimiliki oleh selainnya. Demikian tulisan ringkas ini yang kami sarikan dari kitab “FadhlusShalat ‘alan Nabiy” karya Asy-Syaikh ’Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah . Allahu a’lam . Soal: Apakah hukum berdoa denganselain doa yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawab: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan di dalam “Majmu’ Fatawa” (jil.22/hal.510): Alhamdulillah. Tidak diragukan lagibahwa dzikir dan doa termasuk ibadah yang paling bagus. Sedangkan, ibadah dibangun di atas tauqif (berhenti pada apa yangdigariskan oleh dalil) dan ittiba’ (meneladani Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), bukan di atas hawa nafsu dan bid’ah. Doa dan dzikir Nabi adalah dzikir dan doa terbaik bagi orang yang mencarinya. Orang yang meniti jalan tersebut berada jalan yang aman dan selamat. Faedah dan hasilnya pun tidak bisa terungkapkan oleh lisan dan tidak bisa pula dikuasai ilmunya oleh seorang insan. Adapun dzikir lainnya, terkadang hal itu haram, terkadang makruh, bahkan terkadang di dalamnya terdapat kesyirikan yang mana mayoritas manusia tidak mengetahui hal tersebut [terlebih lagi bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab], dan hal ini bisa panjang lebar jika dirinci lebih mendalam. Seseorang tidak diperbolehkan untuk membuat ajaran bagi orang lain berupa suatu dzikir dan doa tertentu selain yang diriwayatkan, kemudian menjadikannya sesuatu yang rutin; yang mana orang-orangmelakukannya secara rutin seperti shalat lima waktu. Hal ini adalah membuat ajaran baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Berbeda halnya apabila seseorang terkadang berdoa [dengan doa yang tidak diajarkan Nabi] tanpa menjadikannya sebagai ajaran bagimanusia, jika tidak diketahui bahwa di dalamnya terkandung sesuatu keharaman, maka tidak bisa dipastikan haramnya doa dan dzikir tersebut. Akan tetapi, terkadang memang ada keharaman di dalamnya dan orang itu tidak menyadarinya. Hal ini sebagaimana [bolehnya] seseorangyang berdoa dalam keadaan darurat dengan doa yang terlintas di benaknya pada waktu itu [meski doa tersebut tidak diriwayatkan dari Nabi]. Hal ini dan yang semisalnya adalah serupa.” [Disadur dari Majmu' Fatawa].

29 Jun 2011

Manusia Yang Hidup Terus Setelah Matinya!

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc
Subhanallah… Ada Manusia Yang Hidup Terus Setelah Matinya!
بسم الله الرحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Kawan…
Tulisan ini adalah ajakan untuk saya dan kaum muslim, agar menjadi orang berilmu agama, mengamalkannya kemudian mengajarkan dan menyebarkannya…
Kawan…
Mari tuntut ilmu agama, niscaya kamu bisa hidup terus setelah matimu…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ».
Artinya: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yangdiambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya ” . (HR. Muslim)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وهذا منْ أعظمِ الادلةِ علَى شرفِ العلمِ وفضلِهِ وعظمِ ثمرتِه فإنَّ ثوابَهُ يَصلُ إلَى الرَّجلِ بعدَ موتِه ما دامَ ينتفعُ بِه فكأنَّه حيٌّ لم يَنقطعْ عملُه معَ مالَهُ مِن حياةِ الذِّكرِ والثناءِ فَجَريان أَجرِه عليهِ إذا انقطَعَ عنِ الناسِ ثوابَ أَعمالِهمْ حياةٌ ثانيةٌ
“Dan ini adalah bukti yang paling besar akan kemuliaan dan keutamaan ilmu serta keagungan hasilnya, karena sesungguhnya pahalanya akan sampai kepada seseorang (yang mengajarkan ilmu) setelah kematiannya selama ilmu tersebut diambil manfaatnya, seakan-akan dia hidup, tidak terputus amalnya bahkan dibarengidengan ingatan dan pujian selalu untuknya, mengalirnya pahala kepadanya disaat seluruh manusia terputus dari mereka amalan mereka adalah merupakan KEHIDUPAN KEDUA ”. (Lihat kitabMiftah Dar As Sa’adah, karya Ibnul Qayyim rahimahullah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِبَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ ».
Artinya: “Sesungguhnya yang mendapati seorang mukmin dari amal dan kebaikannya setelah kematiannya adalah; sebuah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, seorang anak shalih yang dia tinggalkan, sebuah mushhaf Al Quran yang dia wariskan atau sebuah masjid yang dia bangun, sebuah rumah untuk para musafir yang kehabisan bekal yang dia bangun, sebuah sungai yang dia alirkan atau sebuah sedekah yang dia keluarkan dari hartanya ketika disaat sehat dan hidupnya, seluruhnya ini adalah amalan yang akan mendapatinya setelah kematiannya” . (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Al Jami’)
Mari perhatikan…ternyata semua amalan yang pahalanya akan mengalir kepada seseorang meskipun dia sudah meninggal, kuncinya pada ilmu agama. Subhanallah…!
Kawan…saya yakin… kita bisa berbuat untuk perihal ilmu…
1. Belajar ilmu agama
2. Mengamalkan ilmu agama
3. Mengajarkan dan menyebarkan ilmu agama, walau hanya menyebarkan kaset, cd, brosur, pengumuman kajian Islam bermanfaat, dan semisalnya kepada orang lain.
Selamat berjuang untuk bisa hidup terus setelah kematian menjemput!
يَمُوْتُ الْعَالِمُ وَ يَبْقَى كِتَابُهُ
ORANG BERILMU BOLEH MENINGGAL TETAPI KITABNYA TETAP AKAN TERTINGGAL
Ahmad Zainuddin
Rabu, 20 Rajab 1432H
Dammam, KSA


Tersenyumlah…!!!

Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Dari ‘Ubaidullah bin Mughirah, dia berkata: Saya pernah mendengar Abdullah bin Harits bin Jaz’ berkata: ” Saya tidak pernah melihat seorangpun juga yang lebih banyak tersenyum dariRasulullah shallallahu’alaihi wa sallam “.
Hadits Shahih. Telah dikeluarkan oleh Ahmad (4/190 & 191) dan Abdullah bin Mubarak di kitab ” Zuhud ” (no.145) dan yang selainnya keduanya dari jalan Abdullah bin Lahi’ah dari ‘Ubaidullah bin Mughirah, dari Abdullah bin Harits bin Jaz’ seperti di atas.
Abdullah bin Lahi’ah adalah seorang rawi yang buruk hapalannya, akan tetapi riwayat Abdullah bin Mubarak dari Abdullahbin Lahi’ah – seperti hadits ini yang langsung dikeluarkan oleh Abdullah bin Mubarak di kitab Zuhud dari jalan Abdullah bin Lahi’ah – adalah Shahih sebagaimana telah saya jelaskan di kitab Al-Masaa-il jilid 7 masalah ke 226 (no.951).
Karena Abdullah bin Mubarak telah meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Lahi’ah sebelum hapalan Abdullah bin Lahi’ah menjadi buruk disebabkan telah hilang terbakar kitab catatan hadits-haditsnya. Maka ketika kitab catatan haditsnya terbakar, dalam meriwayatkan hadits dia hanya mengandalkan hapalannya saja, maka terjadilah kesalahan-kesalahan di dalam riwayatnya. Oleh karena itu rawi-rawi yang menerima hadits darinya sesudah hapalannya rusak, maka haditsnya Dha’if kecuali dipakai sebagai syahid (penguat). Sedangkan rawi-rawi yang menerima hadits darinya sebelum kitab catatan hadits-hadits terbakar, maka haditsnya atau riwayatnya Shahih seperti Abdullah bin Mubarak dan lain-lain.
Kalau hadits yang mulia ini yang menjelaskan salah satu sifat dan kebiasaan dari Nabi yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam mendapatkan tempat tersendiri di hati kita, maka yang terjadi adalah:
1 .  Kita akan dapat dengan mudahmeraih sejumlah pahala hanya dengan tersenyum…dan tersenyum…dan tersenyum lagi. Kecuali pada sebagian keadaan  dan pada sebagian orang yang memang tidak disyari’atkan untuk tersenyum…
Dalam hadits Shahih diterangkan:
Dari Abu Dzar, dia berkata: Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telahbersabda: ” Janganlah kamu menganggap remeh (mengecilkan) perbuatan yang baik sedikitpun juga, walaupun kamu berjumpa saudaramu dengan wajah yang manis “. (Hadits Shahih, Telah dikeluarkan oleh Muslim (no.2626) dan lain-lain)
2 .  Akan menghilangkan kesusahan, kegundahan, kedukaan, kesedihan, kelelahan, keletihan di hati dan di fisik… Atau paling tidak menguranginya…
3 .  Akan menumbuhkan perasaan kasih dan sayang dan akan menjadikannya sebagai seorang yang pemurah.
4 .  Akan dikasih dan disayang.
5 .  Akan menghilangkan sifat pemarah dan dendam… Atau palingtidak menguranginya…
6 .  Akan membuat mukanya selalutampak cerah dan berseri-seri.
7 .  Akan membuat hatinya bersama hati orang yang berhadapan atau bertemu dengannya menjadi lapang dan lega, hilanglah buruk sangka yang bersarang di hati…
8 .  Akan dapat menghilangkan berbagai macam penyakit atau paling tidak menguranginya dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.
9 .  Mencontoh salah satu sifat darisifat-sifat Nabi yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam.
10 .  Menebarkan senyum dalam menyebarkan akhlak Islam. Yakni senyum yag hakiki yang dilandasi oleh keimanan dan mengharapkan pahala dari Rabbul ‘alamin, bukan senyum yang…
Disalin dari Kitab Al-Masaa-il Jilid 9 hal.138-140 (Masalah ke 270) oleh guru kami Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat ~semoga Allah menjaganya~

25 Jun 2011

Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Dari Abdurrahman bin Utsman (ia berkata): “Sesungguhnya seorang tabib (dokter) pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kodok yang ia akan jadikan sebagai obat? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang tabib tersebut membunuh kodok.” HADITS SHAHIH. Telah dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 3871 & 5269 dan ini lafazhnya), Nasaa-i (7/210), Ahmad (3/453), Hakim (4/411) dan Baihaqy (9/258), mereka semuanya meriwayatkan dari jalan Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’id bin Khalid, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abdurrahman bin Utsman (seperti di atas). Berkata Imam Hakim: “Hadits ini shahih isnadnya”. Dan Imam Dzahabi telah menyetujuinya. Saya berkata: Isnadnya shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqah darirawi Bukhari dan Muslim kecuali Sa’id bin Khalid bin Abdullah bin Qaarizh seorang rawi yang tsiqah. Berkata Imam Nasaa-i: “Tsiqah”. Berkata Imam Daaruquthniy: “Boleh dipakai sebagai hujjah”. Imam Ibnu Hibban telah memasukkannya di kitabnya Ats-Tsiqaat . Adapun Ibnu Hajar di Taqrib -nya mengatakan: “Shaduqun!”. Yakni, satu istilah untuk rawi yang derajat haditsnya hasan. Saya melihat bahwa pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar kurang tepat, yang lebih tepat bahwa Sa’id bin Khalid adalah seorang rawi yang tsiqah. Wallahu a’lam. FIQIH HADITS Hadits yang mulia ini merupakan hujjah yang sangat kuat tentang haramnya memakan daging kodok karena tiga sebab [1]: Pertama: Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuhnya, baik untuk dimakan atau dimanfaatkan atau untuk disia-siakan. Kedua: Larangan memakannya. Karena tidak ada faedahnya kalau yang dimaksud oleh hadits di atas hanyaterbatas pada larangan membunuhnya, tetapi halal memakannya!? Cara yang seperti ini merupakan kejumudan dan lebih zhahir dari kaum zhahiriyyah,tanpa mau melihat dan memahamilafazh dan siyaaq (susunan) hadits.Di dalam hadits di atas seorang tabib (dokter) meminta izin kepadaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadikan kodok sebagai obat. Tentunya yang dimaksud oleh si dokter ialah dengan cara memakannya atau memberi makan kepada si pasien yang dia yakini bahwa daging kodok itu sebagai obat. Inilah yang cepat kita tangkap dengan mudah dari permintaan izin dokter tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah saudara akan memahami, bahwa maksud dokter tersebut meminta izin untuk menjadikan kodok sebagai obat, ialah dengan cara daging kodok itu dioles-oleskan ketubuh si pasien bukan dengan cara memakannya? Ketiga: Para Ulama telah membuat satu kaidah dan telah menjadikannya sebagai salah satu sebab tentang haramnya sesuatu binatang yaitu: Setiap binatang yang kita diperintah untuk membunuhnya atau dilarang membunuhnya hukumnya adalah haram dimakan. Kalau mereka membantah : Dilarang membunuhnya bukan berarti dilarang juga memakannya.Harus ada dalil yang lain yang dengan tegas melarang memakannya. Karena hukum asal makanan dan minuman halal sampai datang dalil yang mengharamkannya. Kalau tidak ada, maka dia kembali kepada hukum asal yaitu halal. Adapun membuat satu kaidah dan menjadikannya sebagai salah satu sebab, bahwa setiap binatang yangkita diperintah untuk membunuhnya atau dilarang membunuhnya seperti kodok adalah hukumnya haram dimakan, merupakan sebuah kaidah yang tidak tepat pada tempatnya dan bertentangan dengan hukum asal di atas. Berkata Abu Unaisah (penulis) sambil bersoal jawab dengan mereka: A : Menurut madzhab saudara kodok itu halal, berarti boleh dimakan? B : Betul! Siapa saja yang suka silahkan dia memakannya! A : Saudara suka dan pernah memakannya? B : Saya tidak suka dan belum pernah memakannya. A : Anggap saja saudara suka dan pernah memakannya, sekarang saya akan bertanya kepada saudara. B : Silahkan! A : Ketika saudara memakan kodok,apakah saudara makan kodok itu hidup-hidup, atau dimatikan dulu lalu digoreng atau dimasak baru kemudian saudara makan? B : Ya, dimasak dulu baru dimakan! A : Bukankah menurut madzhab saudara, kodok itu haram dibunuh tetapi halal dimakan? B: Benar, madzhab kami sesuai dengan zhahirnya hadits. A : Kalau begitu zhahirnya madzhab saudara, maka resikonya apabila saudara ingin memakan kodok, saudara harus makan kodok itu hidup-hidup, tidak boleh digoreng atau dimasak dulu karena bisa membunuhnya. Padahal menurut madzhab saudara, kodok itu haramdibunuh tetapi halal dimakan!? B : Tidak begitu! Jauh sekali! Yang kami maksud dilarang membunuhnya, apabila kodok itu  dibunuh bukan untuk dimakan tetapi disia-siakan. A : Bukankah tabib yang meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga untuk dimakan sebagai obat tidak untuk disia-siakan? Ataukah saudara ingin mengatakan, bukan untuk dimakan, tetapi daging kodok itu cukup dioles-oleskan ketubuhnya atau ketubuh pasiennya? Fatwa Para Imam: 1. Berkata Abdullah bin Ahmad: Akupernah bertanya kepada bapakku (yakni Imam Ahmad bin Hambal) tentang kodok. Beliau menjawab: “Tidak boleh dimakan dan tidak boleh dibunuh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuh kodok berdasarkan hadits Abdurrahman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambaldari riwayat anaknya Imam Abdullah bin Ahmad bin Hambal hal: 271-272 di tahqiq oleh Zuhair Syaawisy] 2. Imam al Khaththaabiy mengatakan bahwa kodok itu haram dimakan. (‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud juz 10 hal: 252-253]. 3. Ima Ibnu Hazm dikitabnya “Al Muhalla” (juz 7 hal:245, 398 dan 410) mengatakan bahwa kodok itu sama sekali tidak halal dimakan. Dan lain-lain Sumber: Disalin ulang dari buku Al Masail jilid 4, al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat – hafizhahullah -, Masalah ke 91, Penerbit Darussunnah, Cet.2, Hal.209-213.
Tawassul Yang Disyariatkan
Setiap kali ada musibah dan ujian yang menghantui kehidupan manusia seorang Muslim, ia harus kembalikan semuanya  kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena ia meyakini bahwa Allah-lah, Rabb yang mampu menyingkap hijab-hijab kesulitan, kefakiran dan kepayahan para hambaNya. Dan ia juga meyakini bahwa Dialah yang mampu memberikan pertolongan, kemudahan dan petunjuk. Tidak ada kekuatan lain yang mampu melakukan hal ini selain Dia, Allah Ta’alaa . Terkadang dalam memohon dan berdo’a, manusia sering menggunakan perantara (atau yang disebut dengan tawassul dalam terminology aqidah) antara dirinya dan Allah Ta’alaa. Karena mereka merasa tidak mampu, lemah dan tidak memiliki apa-apa dihadapan Rabbnya. Hal ini mereka lakukan agar do’a dan permohonannya terkabulkan dengan segera.
Namun sebagai manusia muslim, ia harus selalu memperhatikan rambu-rambu Islam dalam masalah tawassul, karena tidak semua bentuk tawassul atau perantaraan yang berkembang dalam masyarakat ini diperbolehkan dalam ajaran Islam.Boleh jadi seorang muslim dalam berdo’a, ia bertawassul dengan kuburan-kuburan, batu-batuan dan pepohonan yang dikramatkan. Bahkan ada yang meyakini adanya kekuatan lain atau penguasa lain selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki kekuasaan atas sebagian wilayah yang ada di bumiini.
Tawassul menurut etimologi bahasa Arab artinya: “Sesuatu yang bisa mendekatkan kepada yang lain.” ( Mukhtar Ash-Shihah )
Ibnu Atsir di dalam An-Nihayah mengatakan: “(Tawassul adalah) sesuatu yang akan menyampaikan kepada yang lain dan mendekatkandiri dengannya.”
Adapun menurut terminologi syariat, tawassul adalah: “Mendekatkan diri kepada Allah dengan segala bentuk ketaatan dan peribadatan, dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan segala bentuk amalan yang dicintaiAllah Subhanahu wa Ta’ala dan diridhai-Nya.” ( At-Tawassul Ila Haqiqati Tawassul ).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“ Hai orang-orang yang beriman bertakwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya .” (QS. Al-Maa’idah: 35).
Qatadah berkata, “BertaqarrublahkepadaNya dengan ketaatan kepadaNya dan mengamalkan segala yang diridhaiNya.”
Tawassul yang disyari’atkan adalah tawassul sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Qur ’an, dituntunkan oleh Rasulullah dan dipraktekkan oleh para sahabat. Pada dasarnya setiap ketaatan dan sikap merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu waTa’ala dapat dijadikan sebagai bentuk tawassul. Ada beberapa macam tawassul yang disyari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam , yaitu:
1.   Tawassul dengan iman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, menceritakan tawassul para hambaNya dengan iman:
“ Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu),’Berimanlah kamu kepadaRabbmu’, maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti .” (QS. Ali Imraan: 193).
2.   Tawassul dengan tauhid, seperti dosa Nabi Yunus Alaihis Salam ketika ditelan oleh ikan besar:
“ Maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap: ‘Bahwa tak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. MahasuciEngkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.’ Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman .” (QS. Al-Anbiyaa’: 87-88).
3.   Tawassul dengan nama-nama Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hanya milik Allah asma-ul husna,maka bermohonlah kepada­Nya dengan menyebut asma-ul husna itu.” (QS. Al-A’raaf: 180).
Di antara doa Rasul Shalallahu’alaihi wa Salam dengan nama-namaNya ialah ucapan beliau:
“ Aku memohon kepadaMu dengansemua nama yang Engkau miliki .”(HR. At-Tirmidzi, dan ia menilai hasan shahih).
4.   Tawassul dengan sifat-sifat Allah, seperti ucapan Rasul Shalallahu’alaihi wa Salam :
“ Wahai Yang Mahahidup lagi YangMengatur urusan makhlukNya, dengan rahmatMu aku memohon bantuan .” (Hasan, riwayat at-Tirmidzi).
Syaikh ar-Rifa’i mengatakan, “Mohonlah segala hajat kalian kepada Allah dengan kecintaanNya kepada auliya’Nya.”
5.   Tawassul dengan amal-amal shalih, seperti shalat, berbakti kepa­da kedua orang tua, memelihara hak-hak, amanah dan sedekah, dzikir, membaca al-Qur`an, shalawat atas Nabi Shalallahu’alaihi wa Salam , kecintaan kita kepadanya dan para sahabatnya, serta amal-amal shalih lainnya. Disebutkan dalam Shahih Muslim tentang tiga orang yang tertahan di dalam gua, lalu mereka bertawassul kepada Allah, yang pertama dengan amal shalih berupa memelihara hak buruh, yang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tuanya dan yang ketiga dengan rasa takutnya terhadap Allah, maka Allahpun membebaskan mereka dari gua tersebut.
6.   Tawassul kepada Allah dengan meninggalkan kemak­siatan, seperti khamar, zina dan yang diharamkan lainnya. Salah seorangyang terperangkap dalam gua tersebut bertawassul dengan perbuatan zina yang yang ditinggalkannya, lalu Allah membebaskannya dari gua tersebut.
Sebagian kaum muslimin tidak mengerjakan amal shalih dan bertawassul dengannya. Mereka justru bertawassul dengan amalan-amalan orang lain yang sudah mati, dengan menyelisihi petunjuk Rasul Shalallahu’alaihi wa Salam dan para sahabatnya.
7.   Tawassul dengan meminta doa dari para Nabi dan orang-orang shalih semasa hidupnya. Diriwayatkan bahwa seorang yang buta matanya datang kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa Salam seraya mengatakan, “Berdoalah kepada Allah agar Dia memberi kesembuhan kepadaku.” Beliau bersabda: “Jika kamu suka, aku berdoa untukmu dan jika kamu suka, kamu bersabar saja; dan itu lebih baik bagimu.” Ia mengatakan, “Berdoalah!” Kemudian beliau memerintahkannya supaya berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua rekaat, dan berdoa dengan doa ini:
“ Ya Allah, aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu dengan nabiMu, nabi rahmat. Wahai Muhammad aku menghadap denganmu kepada Rabbku dalam hajatku ini agar hajatku ini diselesaikan. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku, dan berilah aku syafaat melalui (doa)nya.”
Orang itu pun melakukannya sehingga terbebas dari kebutaannya . (Shahih, riwayat Ahmad).
Hadits ini mengandung arti bahwa Rasul Shalallahu’alaihi wa Salam berdoa untuk orang buta semasa hidupnya, lalu Allah mengabulkan doanya. Beliau memerintahkan kepadanya agar berdoa untuk dirinya sendiri, dan menghadap kepada Allah dengan doa Nabinya, maka Allah menerima doanya. Doa ini khusus semasa hayat beliau Shalallahu’alaihi wa Salam dan tidak boleh berdoa dengannya sepeninggalnya. Karena para sahabat tidak melakukannya, dan orang-orang yang buta tidak bisa mengambil manfaat dari doa itu setelah peristiwa ini.
Untuk menjaga tauhid dan kesempuranannya, setiap mukmin harus berupaya dan berusaha menjauhkan dirinya dari bentuk tawassul yang mengandung bid’ah dan dilarang oleh Islam. Karena tawassul yang mengandungnilai kemungkaran ini akan berpengaruh pada terkabulnya do’a itu sendiri. Dan seharusnya setiap mukmin memperhatikan do’a-do’a yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.
Tawassul Yang Dilarang
Tawassul yang terlarang adalah menggunakan sarana untuk mendekat-kan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syari’at. Di antaranya tawassul dengan berdoa kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir, memohon keselamatan dengan perantaraan mereka, dan sejenisnya. Semua perbuatan itu adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dariIslam dan bertentangan dengan tauhid.
Berdoa kepada Allah Subhanahu waTa’ala , baik dalam bentuk doa permohonan seperti meminta sesuatu dan meminta diselamatkan dari bahaya: atau doa ibadah seperti rasa tunduk danpasrah di hadapan Allah, kesemuanya itu tidak boleh dialamatkan kepada selain Allah. Memalingkannya dari Allah adalah syirik dalam berdoa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Rabbmu berfirman:”Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina…” (QS. Al-Mukmin : 60)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas ganjaran bagi orang yang enggan berdoa kepada-Nya, bisa jadi dengan berdoa kepada selain-Nya atau dengan tidak mau berdoa kepada-Nya secara global dan rinci,karena takkbur atau sikap ujub, meski tak sampai berdoa kepada selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Berdoalah kepada Allah dengan rasa tunduk dan suara perlahan..”
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan berdoa kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.
Segala bentuk penyamaan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah dan ketaatan, maka itu adalah perbuatan syirik terhadap-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan(do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka. “ (QS. Al-Ahqaaf : 5)
“Barangsiapa yang menyeru bersama Allah Ta’ala sesembahan yang lain padahal tidak ada bukti baginya, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada akan beruntung.” (QS. al-Mukminun : 117).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menganggap orang yang berdoa kepada selain-Nya, berarti telah mengambil sesembahan selain-Nya pula. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Faatir : 13-14)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat ini, bahwaDia-lah yang Maha Berkuasa dan Mampu mengurus segala sesuatu, bukan selain-Nya. Bahwasanya para sesembahan itu tidak dapat mendengar doa, apalagi untuk mengabulkan doa tersebut. Kalaupun dimisalkan mereka dapatmendengar, merekapun tidak akanmampu mengabulkannya, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau memberi mudharrat,dan tidak memiliki kemampuan atas hal itu.
Sesungguhnya kaum musyrikin Arab di mana Rasulullah Shallallahu‘ a laihi w a S allam diutus, mereka menjadi orang-orang kafir karena kemusyrikan mereka dalam berdoa. Karena mereka juga berdoa kepada Allah dengan tulus ketika mendapatkan kesulitan. Kemudian mereka menjadi kafir kepada Allah di kala senang dan mendapatkan kenikmatan dengan cara berdoa kepada selain-Nya. Allah berfirman:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih. ” (QS. Al Isra’ : 67)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orangyang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atannya”. (QS.Yunus : 22)
Tawassul yang terlarang dapat dikelompokkan menjadi:
1.   Tawassul kepada orang-orang yang sudah mati, meminta berbagai hajat dari mereka, dan meminta pertolongan kepada mereka sebagaimana realitas hari ini. Mereka menyebutnya sebagai tawassul, padahal bukan demikian.Karena tawassul ialah meminta kepada Allah dengan perantara yang disyariatkan, seperti iman, amal shalih dan Asma’ullah al-Husna . Sementara berdoa kepada orang-orang yang sudah mati adalah berpaling dari Allah, dan itu termasuk syirik besar; berdasarkan firmanNya:
“ Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim. ” (QS. Yunus: 106).
2.   Adapun tawassul dengan jaah (kedudukan) Rasul, seperti ucapan Anda: Wahai Rabb, dengan jaah Muhammad berilah pertolongan kepadaku.” Ini adalah bid’ah, karena para sahabat tidak pernah melakukannya, dan karena Khalifah Umar bertawassul denganal-Abbas semasa hidupnya dengan doanya. Umar tidak bertawassul dengan Rasul setelah kematiannya,ketika meminta turun hujan. Sedangkan hadits: “Bertawassullah dengan jaah (kedudukan)ku” adalah hadits yang tidak punya asal (la ashla lahu), sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Tawassul bid’ah bisa membawa kepada syirik. Yaitu jika ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membutuhkan perantara, seperti halnya seorang amir dan hakim. Karena ini sama halnya menye­rupakan Khaliq dengan makhlukNya. Abu Hanifah berkata, “Aku tidak suka memohon kepada Allah dengan (perantara) selain Allah.”
3.   Adapun meminta doa kepada Rasul setelah kematiannya, sepertiucapan Anda: “Wahai Rasulullah, berdoalah untukku!” maka ini tidak boleh. Karena para sahabat tidak pernah melakukannya. Dan juga berdasarkan sabda beliau:
“ Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya .” (HR. Muslim).
Namun bila bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup, dengan doa mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara meminta agar dia mendoakandirimu kepadaNya, maka hal ini diperbolehkan di dalam syariat dantelah dilakukan oleh para shahabatRasulullah kepada beliau dan telah dilakukan pula oleh Umar bin Khaththab kepada paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu .
Kemusyrikan sebagian orang pada masa sekarang ini bahkan sudah melampaui kemusyrikan orang-orang terdahulu di jaman jahiliyyah. Karena mereka memalingkan berbagai bentuk ibadah kepada selain Allah seperti doa, meminta keselamatan dan sejenisnya hingga pada saat terjepit sekalipun. Kita memohon keselamatan dan keberuntungan kepada Allah. Dengan demikian hendaklah orang yang berdo’a mengambil perantara agar dikabulkan do’anya dengan perkara-perkara yang dicintai dan disukai oleh Allah, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah. Bukan dengan kebid’ahan yang membuat Allah benci, bukan pula dengan kesyirikan yang membuat Allah murka.
Wallahu a’lam bish-shawab .
Dikutip dari buku “ Meniti dan Meneladani Golongan yang Selamat ”
Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Penerbit : Pustaka At-Tibyan

24 Jun 2011

Kesombongan ( takabbur ) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dariyang lain. Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam ,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“ Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia .” [H.R. Muslim, no. 2749,dari 'Abdullah bin Mas'ûd]
Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ‘ujub , hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang.
SEBAB-SEBAB KESOMBONGAN
Sebab-sebab kesombongan, antaralain:
1- ‘Ujub (Membanggakan Diri)
Ketahuilah wahai hamba yang ber- tawadhu’ –semoga Allah lebih meninggikan derajat bagimu-, bahwa manusia tidak akan takabbur kepada orang lain sampaidia terlebih dahulu merasa ‘ujub (membanggakan diri) terhadap dirinya, dan dia memandang dirinya memiliki kelebihan dari orang lain. Maka dari ‘ujub ini muncul kesombongan. Dan ‘ujub merupakan perkara yang membinasakan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“ Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya. ” [ Silsilah Shahihah , no. 1802]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“ Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat .” [HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim]
2- Merendahkan Orang Lain.
Ketahuilah wahai hamba (Allah), bahwa orang yang tidak meremehkan manusia, tidak akan takabbur terhadap mereka. Sedangkan meremehkan seseorang yang dimuliakan Allah dengan keimanan sudah cukup untuk menjadikan sebuah dosa.
3- Suka Menonjolkan Diri ( Taraffu ).
Ketahuilah wahai hamba yang tunduk kepada Allah Subhanahu waTa’ala , bahwa jiwa manusia itu menyukai ketinggian di atas sesamanya, dan dari sini muncul kesombongan.
Oleh karena itu, barangsiapa memperhatikan Al-Qur’an niscaya akan mendapati bahwa orang-orang yang bersombong pada tiap-tiap kaum adalah para pemukanya, yaitu orang-orang yang memegang kendali berbagai urusan. Allah Ta’ala berfirman tentang suku Tsamud, kaum Nabi Shalih Alaihissalam yang artinya, “ Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, ‘Tahukah kamu bahwa Shalih di utus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?’ Mereka (yang dianggap lemah-red) menjawab, ‘Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya .’
Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, “ Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu. ”
Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata, “ Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah). ” [al-A’râf/7:75-77]
Dan Allah Ta’ala memberitakan tentang kaum Nabi Syu’aib Alaihissalam ,
“ Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata, ‘Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami.’ Syu’aib berkata, ‘Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? ‘” [Al-A’raaf/7: 88]
Namun orang yang berakal akan berlomba pada ketinggian yang tetap lagi kekal, yang di dalamnya terdapat keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kedekatan kepadaNya. Dan dia meninggalkan ketinggian sementara yang akan binasa, yang akan diikuti oleh kemurkaan Allah dan kemarahanNya, kerendahan hamba, kesibukannya, jauhnya dariAllah dan terusirnya (dari rahmat) Allah. Inilah ketinggian yang tercela, yaitu sikap melewati batasdan takabbur di muka bumi dengantanpa kebenaran. Allah Ta’ala berfirman,
“ Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak inginketinggian (menyombongkan diri ) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. ” [Al-Qashash/28: 83]
Adapun ketinggian yang pertama (yakni ketinggian yang tetap lagi kekal di akhirat) dan bersemanagat untuk meraihnya, maka itu terpuji. Allah Ta’ala berfirman,
“ Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba .” [Al-Muthaffifin/83: 26]
Maka disyari’atkan berlomba-lomba untuk (meraih) derajat-derajat tinggi di akhirat yang kekal, dan berusaha meraih ketinggian pada tingkatan-tingkatannya, serta bersemangat untuk itu dengan berusaha melakukan sebab-sebabnya. Dan hendaklah seseorang tidak merasapuas dengan kerendahan, padahal dia mampu meraih ketinggian.
4- Mengikuti Hawa Nafsu.
Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa kesombongan itu muncul dari sebab mengikuti hawa nafsu, karena memang hawa nafsu itu mengajak menuju ketinggian dan kemuliaan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman,
“ Apakah setiap datang kepadamuseorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? ” [Al-Baqarah/2: 87]
BAHAYA KESOMBONGAN
Ketahuilah wahai hamba Allah yanghatinya dihiasi dengan tawadhu’ (rendah hati) bahwa bencana kesombongan itu sangat besar, orang-orang istimewa binasa di dalamnya, dan jarang orang yang bebas darinya, baik para ulama, ahli ibadah, atau ahli zuhud. Bagaimana bencana kesombongan itu tidak besar, sedangkan kesombongan itu:
1- Dosa Pertama Yang Dengannya Allah Azza Wa Jalla Dimaksiati.
Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis laknatullah dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa jalla . Kesombongan itu menyeret Iblis untuk menjadikan takdir sebagai alasan terus-menerus sombong. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!,’Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. ” [Al-Baqarah/2: 34]
2- Kesombongan Merupakan Kawan Syirik Dan Penyebabnya.
Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla menggabungkan antara kekafiran dengan kesombongan di dalam kitab-Nya yang mulia, Dia Azza wa Jalla berfirman,
“ Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. ” [Shaad/38: 73-74]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
” (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir .” [Az-Zumar/39: 59]
Karena barangsiapa takabbur dari patuh kepada al-haq (kebenaran) –walaupun kebenaran itu datang kepadanya lewat tangan seorang anak kecil atau orang yang dia benci dan musuhi- , maka sesungguhnya takabburnya itu adalah kepada Allah, karena Allah adalah Al-Haq , perkataan-Nya adalah haq, agama-Nya adalah haq, al-haq merupakan sifat-Nya, dan al-haq adalah dari-Nya dan untukNya. Maka, jika seorang hamba menolak al-haq , takabbur dari menerimanya, maka sesungguhnya dia menolak Allah dan takabbur terhadap-Nya. Dan barangsiapa takabbur terhadap Allah, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya,dan meremehkannya.
3- Orang-Orang Yang Sombong Tempat Kembalinya Adalah Neraka.
Oleh karena itulah Allah Subhanahuwa Ta’ala menjadikan neraka sebagai rumah bagi orang-orang yang sombong, sebagaimana di dalam surat Al-Ghafir ayat 76 dan surat Az-Zumar ayat 72. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“ Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. ” [Az-Zumar/39: 72]
Dan orang-orang yang sombong adalah para penduduk neraka Jahannam, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ
“ Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk sorga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan. ” [Hadits Shahih. Riwayat Ahmad, 2/114; Al-Hakim, 2/499]
Mereka akan merasakan berbagai macam siksaan di dalam Jahannam, akan diliputi kehinaan dari berbagai tempat, dan akan diminumi nanah penduduk neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ
“ Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan) .” [Hadits Hasan. Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad , no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179; dan Nu’aim bin Hammad di dalam Zawaid Az-Zuhd , no. 151]
4- Kesombongan Merupakan Tirai Penghalang Masuk Surga .
Oleh karena itu, Allah mengusir Iblis dari surga, Dia Azza wa Jalla berfirman,
“ Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya! ” [Al-A’râf/7: 13]
Kesombongan itu menjadi tirai penghalang masuk surga karena menghalangi seorang hamba dari akhlaq orang-orang beriman. Orang sombong tidak menyukai untuk kaum mukminin kebaikan yang dia sukai untuk dirinya. Dia tidak mampu bersikap rendah hati dan meninggalkan hasad, dendam, dan marah. Dia juga tidak mampu manahan murka, dia tidak menerima nasehat, dan tidak selamat dari sifat merendahkan dan menggibah manusia. Tidak adasifat yang tercela kecuali dia memilikinya.
5- Allah Tidak Mencintai Orang-Orang Yang Sombong.
Barangsiapa yang memiliki sifat-sifatnya seperti ini, maka dia berhak mendapatkan laknat Allah, jauh dari rahmatNya, Allah memurkainya dan tidak mencintainya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“ Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong .” [An-Nahl/16: 22-23]
6- Kesombongan Merupakan Sebab Su-ul Khatimah (Keburukan Akhir Kehidupan).
Oleh karena itu Allah memberitakan bahwa orang yang sombong dan sewenang-wenang adalah orang-orang yang Allah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak beriman. Sehingga akhir kehidupannya buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“ Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang .” [Al-Mukmin/40: 35]
7- Kesombongan Merupakan Sebab Berpaling Dari Ayat-Ayat Allah.
Yang demikian itu karena orang yang sombong tidak bisa melihat ayat-ayat Allah yang menjelaskan dan berbicara dengan dalil-dalil yang pasti. Juga karena kesombongan itu menutupi kedua matanya, sehingga dia tidak melihat kecuali dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“ Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi .” [Al-A’raaf/7: 146]
8- Kesombongan Merupakan Dosa Terbesar.
Kesombongan memiliki berbagai bahaya seperti ini; maka tidak heran jika ia merupakan dosa terbesar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُونَ لَخِفْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبُ الْعُجْبُ
“ Jika kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub(kagum terhadap diri sendiri). ” [Hadist Hasan Lighairihi , sebagaimana di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah , no. 658, karya Syaikh Al-Albani]
Sumber: At-Tawaadhu’ fii Dhauil Qur’anil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah, hlm. 35-44; Penerbit. Daar Ibnul Qayyim; Cet. 1; Th. 1410 H/1990 M
Diadaptasi dan disadur secara bebas oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari

23 Jun 2011

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Pertanyaan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Banyak beredar di kalangan pemuda muslim kaset-kaset nasyid yang mereka sebut an-nasyid Islamiyyah. Bagaimana sebenarnya permasalahan ini ? Jawaban Jika an-nasyid ini tidak disertai alat-alat musik, maka saya katakan pada dasarnya tidak mengapa, dengan syarat nasyid tersebut terlepas dari segala bentuk pelanggaran syariat, seperti meminta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu waTa'ala, bertawassul kepada makhluk, demikian pula tidak boleh dijadikan kebiasaan (dalam mendengarkannya,-pent), karena akan memalingkan generasi muslim dari membaca, mempelajari, dan merenungi KitabAllah Azza wa Jalla yang sangat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ˜alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya beliau bersabda. Artinya : Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur'an dengan membaguskan suaranya, maka dia bukan dari golongan kami [Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 5023 dan Muslim no. 232-234] Artinya : Bacalah Al-Qur'an dan baguskanlah suaramu dengannya sebelum datang beberapa kaum yang tergesa-gesa mendapat balasan (upah bacaan), dan tidak sabar menanti untuk mendapatkan (pahalanya di akhirat kelak), maka bacalah Al-Qur'an dengan membaguskan suara(mu) dengannya. Lagipula, barangsiapa yang mengamati perihal para sahabat Radhiyallahu ˜anhum, dia tidak akan mendapatkan adanya annasyid-annasyid dalam kehidupan mereka, karena mereka adalah generasi yang sungguh-sungguh dan bukan generasi hiburan. [Al-Ashaalah, 17 hal. 70-71] [Disalin ulang dari buku Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah Mujaddid dan Ahli Hadits Abad Ini. Penyusun Mubarak bin Mahfudh Bamuallim Lc, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i]

22 Jun 2011

Tarahum Dengan Ucapan Rahimahullahu Terhadap Orang-Orang Yang Menyelisihi Itiqad Salaf, Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani Pertanyaan. Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani ditanya: Apa pendapatmu-wahai syaikh- tentang orang-orang yg tdk memperbolehkan tarahum (mendo'akan rahmat kepada seorang yg telah meninggal dg ucapan rahimahullahu, -pent. ) terhadap orang-orang yg menyelisihi i'tiqad salaf seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, Ibnu Hazm & Ibnul Jauzi serta orang-orang yg semisal mereka dari (ulama) salaf. Juga tokoh-tokoh kholaf (kontemporer) seperti al-Banna & Sayyid Quthb. Mengingat anda telah mengetahui dg baik apa yg ditulis oleh Hasan al-Banna dalam bukunya Mudzakkirat ad-Da'wah wad-Da'iyah & Sayyid Quthb dalambukunya Fi Zhilalil Qur'an?? Jawaban Kami berkeyakinan bahwa rahmat& tarahum diperbolehkan bagi seluruh muslim & diharamkan bagi seluruh orang kafir. Jawaban ini merupakan furu' (cabang) dari i'tiqad yg dimiliki oleh jiwa seseorang. Jadi, barangsiapa yg meyakini bahwa orang-orang yg disebutkan dalam pertanyaan tadi adalah muslim, maka jawabannyaadalah telah diketahui -sebagaimana yg telah saya katakan barusan- yaitu boleh mendoakan "semoga Allah merahmati & mengampuni mereka". Dan siapapun yg menganggap bahwa mereka yg disebut dalam pertanyaan tadi adalah bukan muslim, maka tarahum tidaklah diperbolehkan. Inilah jawabanku berkenaan dg apa yg datang dari pertanyaan tadi. Penanya: Mereka mengatakan bahwa hal ini termasuk manhaj salaf, dimana mereka (salaf sholih, -pent. ) tdk melakukan tarahum terhadap mubtadi' (pelaku bid'ah). Konsekuensinya, orang-orang yg disebutkan di dalam pertanyaan pertama tadi dianggap sebagai mubtadi' & mereka tdk melakukan tarahum kepada mereka. Syaikh: Kami telah katakan tadi, bahwa rahmat / tarahum diperbolehkan bagi setiap muslim& tdk boleh bagi seluruh orang kafir. Jika ini benar, maka pertanyaan kedua tadi tdk memiliki dasar. Jika ini tdk benar, maka (pertanyaan kedua tadi) memiliki dasar utk didiskusikan. Bukankah mereka yg telah dihukumi oleh sebagian ulama sebagai mubtadi', mereka tetap disholati? Dan termasuk i'tiqod salaf yg disepakati oleh kholaf adalah, bahwa kita sholat di belakang muslim yg shalih sebagaimana pula kita shalat di belakang muslim yg fajir, kita jugamenshalati orang yg shalih maupun yg fajir. Adapun orang kafir -di sisi lain- tdk boleh disholati. Oleh karena itu, orang yg disebutkan dalam pertanyaan -mau tdk mau- disebut sebagai ahlul bid'ah. Lantas haruskah mereka disholati ataukah tidak?. Saya sebenarnya tdk berkeinginanmendiskusikan hal ini melainkan karena terpaksa. Jika jawabannya adalah mereka harus disholati, maka jawabannya selesai sampai di sini. Pembahasan telah selesai& tak ada lagi tempat utk mendiskusikan pertanyaan kedua tadi, sebagaimana yg akan dilakukan oleh nuhat (ahli nahwu).Jika tdk boleh mensholatinya, maka kesempatan utk diskusi terbuka & dapat dilanjutkan. Penanya: Jika dikatakan, kita tdk mensholatinya dikarenakan mereka termasuk mubtadi'! Lantas apakah jawabanmu? Syaikh: Apa dalilnya? Penanya: Mereka menggunakan af'alus salaf (amalan para salaf) sebagai dalil, & mereka membedakan antara ahlul maksiat dg ahlul bid'ah yg mengada-adakan kebid'ahan di dalam agama. Para salaf terdahulu, mereka tdk mensholati ahlul bid'ah ataupun bermajlis dg mereka serta bermuamalah dg mereka. Berdasarkan ini mereka membangun dakwaannya. Syaikh: Pertanyaannya tadi apa? Penanya: Kita menshalati mereka ataukah tidak? Syaikh: Tidak! anda meluaskan jawaban anda dari pertanyaanku tadi & anda kehilangan maksud dari pertanyaanku. Pertanyaanku tadi adalah, "Apa dalilnya?". Dan anda menjawab dg dalil"dakwaan". Padahal dakwaan tdk sama dg dalil. Sedangkan anda menyatakan bahwa mereka mendakwakan sholat jenazah tdk dilakukan bagi mubtadi'. Penanya: Tidak ada dalil -ya syaikh-, mereka beragumentasi dg amalan para salaf. Syaikh: Apakah amalan salaf itu dalil? Penanya: Itu yg mereka dakwakan. Syaikh: Manakah dalil dari dakwaan ini? Penanya: Dalilnya biasanya sangatumum pd perkara ini. Syaikh: Bukankah para ulama melakukan muqotho'ah (pemutusan hubungan) dg individu-individu tertentu yg melakukan kemaksiatan & kebid'ahan? Lantas, apakah ini artinya mereka menghukuminya sebagai kafir? Penanya: Tidak. Syaikh: Tidak! Sebab mereka masih menganggap mereka sebagai muslim. Kita tdk memiliki pendapat/sikap pertengahan antara muslim & kafir. Jika mereka ini muslim maka diperlakukan sebagai muslim / jika mereka kafir diperlakukan sebagaimana kafir. Kita tdk memiliki pendapat pertengahan sebagaimana pendapatnya Mu'tazilah, yg menyatakan ada tempat diantara dua tempat (manzilah baina manzilatain) -yaitu diantara muslim & kafir-. Selanjutnya, semoga Allah memberkahimu, hal ini murni merupakan pendapat belaka -yaitu para salaf tdk mensholati mubtadi' secara umum-. Ini merupakan pendapat belaka yg diusung oleh para pemuda yg multazim (berpegang dg sunnah) yg mengambil beberapa perkara dg semangat yg meluap-luap tanpa disertai ilmu yg benar berdasarkan Kitabullah & Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Saya telah menunjukkan pd anda suatu hakikat yg tdk mungkin dua orang berbeda pendapat tentangnya, yaitu tentang apakah orang tersebut muslim / kafir. Jikaia seorang muslim, menurut dari apa yg dia zhahir (tampak)-kan maka ia disholati, bahkan -sebagai tambahan- hartanya diwarisi oleh ahli warisnya, mayatnya dimandikan & dikafani, serta ia dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Jika ia kafir, maka ia dihempaskan seperti biji& dikuburkan di pekuburan kaum kafir. Kita tdk punya pendapat pertengahan tentang hal ini. Kendati demikian, jika ada seseorang yg tdk turut menshalatiseorang muslim -atau para ulama tdk mau menshalatinya-, hal ini tidaklah menunjukkan bahwa mensholati orang ini adalah tdk boleh. Hal Ini menunjukkan bahwapara salaf sedang menunjukkan suatu hikmah & menunjukkan beberapa hal yg tdk dapat dipenuhi oleh orang selainnya. Sebagamana kisah dalam sebuah hadits -yang harus kau ingat- di saat nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda dalam beberapa riwayat, "Shalatilah sahabatmu ini!", sedangkan beliau Shallallahu'alaihi wa Sallam tdk turut menshalatinya. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Apakah nabi, yg tdk turut mensholati seorang muslim ini yg lebih utama (dijadikan dalil, pent.) ataukah ulama salafi yg menolakmenshalati muslim yg lebih utama?? Penanya: Penolakan Nabi yg lebih utama! Jawaban: hasanan! (anda benar). Penolakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam-lah yg lebih utama. Penolakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menshalati muslim taditidaklah menunjukkan bahwa menshalati muslim tersebut adalah dilarang. Maka jelaslah, bahwa para ulama salaf yg meninggalkan sholat jenazah tidaklah menunjukkan ketidakbolehan mensholatinya. Selanjutnya, taruhlah seandainya sholat jenazah tadi tdk boleh dilaksanakan. Apakah hal ini berarti seorang tdk boleh memohon rahmat & maghfirah baginya -berdasarkan pandangan kita bahwa dia masih muslim-. Singkatnya, penolakan sebagian ulama salaf dalam menshalati sebagian kaum muslimin pelaku bid'ah, tidaklah membatalkan keabsahan menshalatkan mereka.Mereka melakukan hal ini (tidak turut menshalati) dikarenakan termasuk dalam kategori umum tahdzir (peringatan) dari kejahatan -si mayit- agar orang-orang yg sepertinya mendapatkan pelajaran yg benar. Sebagaimana yg dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam terhadap seorang yg tdk dishalatinya. Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam tdk menshalatinya? Penyebabnya adalah dia menyimpan beberapa bagian dari ghanimah utk dirinya sendiri. Penolakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam mensholatinya adalah lebih utamadaripada penolakan para ulama salaf yg melakukan hal ini. Namunhal ini tidaklah meniadakan / membatalkan keabsahan mensholati muslim pelaku bid'ah. Dari sini, perlu diteliti utk mengetahui siapakah mubtadi' itu& siapakah kafir itu. Ada pertanyaan yg muncul pd pembahasan kali ini, yaitu apakah setiap orang yg jatuh kepada amalan kafir dg serta merta ia menjadi kafir? Dan apakah setiap orang yg jatuh kepada amalan bid'ah dg serta merta ia menjadi mubtadi' ataukah tidak? Penanya: Tidak! Syaikh: Jika jawabannya tidak, maka kita dapat lanjut melihat kepada subyeknya. Jika subyeknyatdk jelas maka perlu diklarifikasi. Saya akan mengulang permasalahan yg menyangkut pertanyaan ini dg beberapa tambahan terperinci. Apakah yg dimaksud dg bid'ah? Bid'ah ialah perkara baru yg menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, & pelakunya melakukan bid'ah ini dg maksud menambah kedekatannya (taqarub) kepada Allah Jalla wa Ala. Apakah setiap orang yg melakukan kebid'ahan dg serta merta menjadi mubtadi'? Penanya: tidak Syaikh: Lantas siapakah mubtadi' itu? Penanya: Seseorang yg telah didatangkan padanya hujjah yg nyata & meyakinkan & ia tetap bersikeras melaksanakan kebid'ahannya. Syaikh: Ahsan. Jadi, orang yg disebutkan -dalam pertanyaan pertama tadi- yg dinyatakan tdk boleh tarahum terhadap mereka, apakah hujjah telah ditegakkan kepada mereka? Allahu 'alam. Lantas apa dasar prinsip tentang mereka? Apakah mereka muslim /kafir? Penanya: Muslim. Syaikh: Prinsip dasarnya adalah mereka muslim. Oleh karena itu, diperbolehkan tarahum terhadap mereka. Prinsip dasarnya sekali lagi adalah diperbolehkan kita memohon maghfirah & rahmat kepada mereka. Bukankah ini masalahnya? Jadi permasalahan ini telah selesai. Kita tdk boleh mengadopsi madzhab baru ini, yaitu pendapat bahwa tarahum terhadap fulan & fulan, / ulama ini& itu dari kaum muslimin, tdk boleh baik secara umum maupun mu'ayan (spesifik). Mengapa? Karena dua alasan yg tersimpulkan dari ucapanku tadi. Alasan pertama adalah mereka muslim. Alasan kedua adalah kalaupun seandainya kita tahu mereka adalah pelaku bid'ah, kita tdk tahu apakah hujjah telah ditegakkan ataukah belum, & apakah mereka bersikeras melakukan kebid'ahannya & melanjutkan kesesatannya ataukah tidak. Karena itu, saya katakan: diantara kesalahan fatal pd hari ini adalah, para pemuda muslim yg multazim dg al-Qur'an& as-Sunnah, dikarenakan mengadopsi madzhab baru ini, mereka telah menyelisihi al-Qur'an & as-Sunnah tanpa mereka sadari. Konsekuensinya, berdasarkan madzhab mereka ini pula, saya berhak pula menghukumi mereka sebagai mubtadi', dikarenakan mereka menyelisihi al-Qur'an & as-Sunnah (dengan madzhab baru yg mereka adopsi ini, pent. ) Kendati demikian, saya takkan menyelisihi madzhabku sendiri (madzhab ahlus sunnah, pent. ). Prinsip dasar yg berkenaan dg pernyataan mereka (para pemudayg semangat tadi, pent. ) adalah, bahwa mereka adalah muslim & mereka tdk bermaksud utk mengada-adakan suatu bid'ah, serta mereka tdk menolak hujjah yg ditegakkan kepada mereka. Sesungguhnya kami berpendapat bahwa mereka melakukan kesalahan di saat mereka mencarikebenaran. Jika kita sadar akan hal ini, kita akan terhindar dari masalah yg merebak dewasa ini. (Sumber: Transkrip kaset Haqiqotul Bid'ah wal Kufri, Silsilah Huda wa Nur, rekaman: Abu Laila al-Atsari, alih bahasa ke Indonesia: Abu Hudzaifah, dikoreksi & dimuroja'ahkan dg kaset aslinya oleh: Abu Salma) Penulis: Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!