WASIAT HASAN BASRI
Rohimahullah KEPADA UMAR BIN
ABDUL AZIZ Rohimahullah Hasan Basri rohimahullah
menulis surat kepada Umar bin
Abdul Aziz rohimahullah , dan
dalam suratnya Hasan Basri
berkata, “Ketahuilah,
sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada
kebaikan dan mengamalkannya .
22 Jul 2011
8 Jul 2011
8.7.11
No comments
[1] Problematika yang timbul dari
keberadaan penganut ajaran
Ahmadiyah di tengah kaum
muslimin tetap saja akan
mencuat. Seiring dengan
agresivitas golongan yang pertama kali muncul di daratan
India itu dalam menyebarluaskan
pemahaman-pemahaman si Nabi
Palsu, antek penjajah Inggris. Sebagian orang meyakini kalau
Ahmadiyah hanya sekedar firqoh
(golongan sempalan) dalam Islam.
Sebuah golongan yang
mempunyai furû (dalam masalah
fikih misalnya) yang berbeda dari golongan lainnya. Tidak ada titik
perbedaan selain ini. Pendapat
demikian ini dipatahkan oleh Syaikh Ihsân Ilâhi Zhâhir rahimahullah. Dalam keterangan
beliau, seorang muslim
hendaknya tahu betapa besar
kesalahan asumsi di atas.
Pasalnya, golongan yang juga
dikenal nama Qadiyaniah tidak mempunyai hubungan apapun
dengan Islam. Hanya saja mereka
mengenakan baju Islam untuk
mengecoh kaum muslimin [2]. Berikut ini 2 (dua) fakta dari
kitab-kitab mereka yang
menguatkan kesimpulan tersebut,
baik tulisan maupun pernyataan
sang Nabi Palsu atau para
penerus aqidah sesatnya. Wallahul Hâdi [3] SEORANG MUSLIM ADALAH
ORANG KAFIR SEBELUM
MEMELUK AGAMA AHMADIYAH Keterangan di atas tidak
mengada-ada. Bila seorang
muslim meninggal, maka tidak
akan disholati oleh Ahmadiyyûn,
juga tidak boleh dikuburkan di
pemakaman mereka. Selain itu pula, pernikahan antara seorang
lelaki yang menganut agama
Islam yang dibawa Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan wanita
penganut ajaran Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad (semoga
memperoleh hukuman setimpal
dari Allah Azza wa Jalla) tidak
boleh terjadi. Karena ia dalam
pandangan ‘Nabi’ Ghulam
Ahmad sudah kafir. Berikut ini penuturan dan pernyataannya:
“Orang yang tidak beriman
kepadaku, berarti ia tidak
beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya”. [4] Putranya yang meneruskan
kedustaan sang ayah, Mahmûd
Ahmad menguatkan: “Seorang
lelaki menemuiku di sebuah
wilayah. Ia menanyakan
mengenai berita yang telah beredar bahwa kalian
mengkafirkan kaum muslimin
yang tidak menganut agama
Ahmadiyah. Apakah itu memang
benar. Maka saya menjawab, Iya.
Tidak diragukan lagi. Kami memang mengkafirkan kalian”.
Maka lelaki tersebut merasa aneh
dan kaget”.[5] Anaknya yang lain, Basyîr Ahmad
dengan tanpa malu-malu
mengatakan: “Setiap orang yang
beriman kepada Musa
Alaihissallam, tapi tidak beriman
kepada Isa Alaihissallam, juga tidak beriman kepada Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka dia kafir. Begitu pula orang
yang tidak beriman kepada
Ghulam Ahmad maka dia kafir
juga, telah keluar dari Islam. Kami tidak mengatakan ini dari
diri kami sendiri. Namun kami
mengutip dari Kitabullah
“Merekalah orang-orang yang
kafir sebenar-benarnya..”(an-
Nisâ/4:151) (Kalimatul Fashl, Basyîr Ahmad bin Nabi Palsu). Di
sini bisa dilihat, bagaimana ia tak
lupa mencatut dan membajak
ayat al-Qur`an untuk kepentingan
golongannya yang lebih pantas
disebut agama baru Ahmadiyah. Putra Ghulam pernah juga
mengutip pernyataan Nuruddin,
pengganti Ghulam yang pertama
(Khalifah Ahmadiyah yang
pertama setelah kebinasaan Nabi
Palsu mereka) : “Sesungguhnya kaum muslimin selain penganut
ajaran Qâdiyaniah (Ahmadiyah)
masuk dalam kandungan firman
Allah Azza wa Jalla : “Merekalah
orang orang yang kafir sebenar-
benarnya”. Kemudian ia membubuhkan catatan (ta’liq)
setelah perkataan di atas,
bunyinya: “Bagaimana mungkin
orang yang mengingkari Musa
Alaihissallam menjadi kafir dan
terlaknat, yang mengingkari Isa Alaihissallam juga kafir,
sementara orang yang
mengingkari Ghulam Ahmad tidak
kafir. Padahal perkataan kaum
mukminin adalah “Kami tidak
membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain)
dari rasulrasul-Nya,” .
Sementara mereka itu
membedakan sikap terhadap
para rasul. Oleh karena itu, orang
yang mengingkari Ghulam Ahmad pasti orang kafir dan masuk
dalam firman Allah : “Merekalah
orang orang yang kafir sebenar-
benarnya” [Kalimatul Fashl,
Basyîr Ahmad hal. 120, 174]. Dalam kitab an-Nubuwwah Fil
Ilhâm, hasil karya salah satu
ulama Ahmadiyah termaktub:
“Sesungguhnya Allah k berkata
kepadanya (Si Nabi Palsu):
“Orang yang mencintai-Ku dan menaati-Ku, wajib atas dirinya
mengikutimu dan beriman
kepadamu. Kalau tidak, ia belum
mencintai-Ku. Bahkan sebaliknya,
ia adalah musuh-Ku. Apabila para
pengingkar menolak ini, atau bahkan mendustakanmu dan
menyakitimu, maka Kami akan
membalas mereka dengan
balasan yang buruk, dan Kami
persiapkan bagi orang-orang
kafir itu Jahannam sebagai penjara bagi mereka”. Lalu
penulis berkomentar mengenai
ilham di atas, bahwa Allah Azza
wa Jalla telah menjelaskan di sini
bahwa orang yang mengingkari
Ghulam adalah orang kafir dan balasannya Jahannam”. [an-
Nubuwwah Wal Ilhâm,
Muhammad Yûsuf al-Qâdiyâni hal.
40]. Demikian cuplikan aqidah mereka
tentang kaum muslimin melalui
tulisan-tulisan sang Nabi palsu,
keturunan dan tokoh agama
mereka. Masih banyak aqidah
buruk mereka yang lain, yang kian menegaskan kesimpulan di
awal tulisan ini bahwa mereka
bukan kaum muslimin lagi. Jadi,
tinggal menunggu keberanian
mereka untuk menyatakan
dengan lantang dan keras bahwa mereka bukan kaum muslimin.
Dengan ini tensi permusuhan
kaum muslimin dengan mereka
(mungkin) sedikitbanyak akan
mereda.[6] TERPAKSA SHALAT DENGAN
KAUM MUSLIMIN KARENA
TAKUT TERBONGKAR JATI
DIRINYA BUKAN MUSLIM Karena vonis kafir yang mereka
arahkan kepada kaum Muslimin,
maka mereka tidak
memperbolehkan sholat di
belakang seorang muslim. Mesti
dipastikan terlebih dahulu bahwa sang imam adalah juga penganut
agama Ahmadiyah, sebelum
mereka ikut serta dalam suatu
sholat jamaah. Seandainya
mereka ikut serta dalam sholat
berjamaah dengan kaum muslimin, itu mereka lakukan
sekedar untuk menutupi topeng
mereka. Lantas mereka akan
mengulangi sholat (ala mereka) di
rumah. Sang Nabi Palsu berkata: “Inilah
(keterangan di atas) adalah
madzhabku yang sudah jelas.
yakni, tidak boleh bagi kalian
untuk sholat di belakang selain
penganut Ahmadiyah. Dalam kondisi apapun, siapapun
imamnya, walaupun nanti
memperoleh pujian dari orang-
orang. Inilah hukum Allah dan
kehendak Allah (?). Orang yang
ragu dan sangsi tentang ini termasuk dalam hitungan kaum
yang mendustakan. Allah ingin
membedakan kalian dari orang
lain [Malfûzhât al- Ghulâm/
pernyataan-pernyataan Ghulam
yang diterbitkan di Majalah al- Hikam milik Ahmadiyah tanggal
10 Desember 1904 M]. Dalam kitab Arbaîn miliknya (hal
34-35), si Nabi palsu berkata:
“Sesungguhnya Allah Azza wa
Jalla telah memberiku berita
keberadaan penganut ajaran
Ahmadiyah di tengah kaum
muslimin tetap saja akan
mencuat. Seiring dengan
agresivitas golongan yang pertama kali muncul di daratan
India itu dalam menyebarluaskan
pemahaman-pemahaman si Nabi
Palsu, antek penjajah Inggris. Sebagian orang meyakini kalau
Ahmadiyah hanya sekedar firqoh
(golongan sempalan) dalam Islam.
Sebuah golongan yang
mempunyai furû (dalam masalah
fikih misalnya) yang berbeda dari golongan lainnya. Tidak ada titik
perbedaan selain ini. Pendapat
demikian ini dipatahkan oleh Syaikh Ihsân Ilâhi Zhâhir rahimahullah. Dalam keterangan
beliau, seorang muslim
hendaknya tahu betapa besar
kesalahan asumsi di atas.
Pasalnya, golongan yang juga
dikenal nama Qadiyaniah tidak mempunyai hubungan apapun
dengan Islam. Hanya saja mereka
mengenakan baju Islam untuk
mengecoh kaum muslimin [2]. Berikut ini 2 (dua) fakta dari
kitab-kitab mereka yang
menguatkan kesimpulan tersebut,
baik tulisan maupun pernyataan
sang Nabi Palsu atau para
penerus aqidah sesatnya. Wallahul Hâdi [3] SEORANG MUSLIM ADALAH
ORANG KAFIR SEBELUM
MEMELUK AGAMA AHMADIYAH Keterangan di atas tidak
mengada-ada. Bila seorang
muslim meninggal, maka tidak
akan disholati oleh Ahmadiyyûn,
juga tidak boleh dikuburkan di
pemakaman mereka. Selain itu pula, pernikahan antara seorang
lelaki yang menganut agama
Islam yang dibawa Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan wanita
penganut ajaran Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad (semoga
memperoleh hukuman setimpal
dari Allah Azza wa Jalla) tidak
boleh terjadi. Karena ia dalam
pandangan ‘Nabi’ Ghulam
Ahmad sudah kafir. Berikut ini penuturan dan pernyataannya:
“Orang yang tidak beriman
kepadaku, berarti ia tidak
beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya”. [4] Putranya yang meneruskan
kedustaan sang ayah, Mahmûd
Ahmad menguatkan: “Seorang
lelaki menemuiku di sebuah
wilayah. Ia menanyakan
mengenai berita yang telah beredar bahwa kalian
mengkafirkan kaum muslimin
yang tidak menganut agama
Ahmadiyah. Apakah itu memang
benar. Maka saya menjawab, Iya.
Tidak diragukan lagi. Kami memang mengkafirkan kalian”.
Maka lelaki tersebut merasa aneh
dan kaget”.[5] Anaknya yang lain, Basyîr Ahmad
dengan tanpa malu-malu
mengatakan: “Setiap orang yang
beriman kepada Musa
Alaihissallam, tapi tidak beriman
kepada Isa Alaihissallam, juga tidak beriman kepada Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka dia kafir. Begitu pula orang
yang tidak beriman kepada
Ghulam Ahmad maka dia kafir
juga, telah keluar dari Islam. Kami tidak mengatakan ini dari
diri kami sendiri. Namun kami
mengutip dari Kitabullah
“Merekalah orang-orang yang
kafir sebenar-benarnya..”(an-
Nisâ/4:151) (Kalimatul Fashl, Basyîr Ahmad bin Nabi Palsu). Di
sini bisa dilihat, bagaimana ia tak
lupa mencatut dan membajak
ayat al-Qur`an untuk kepentingan
golongannya yang lebih pantas
disebut agama baru Ahmadiyah. Putra Ghulam pernah juga
mengutip pernyataan Nuruddin,
pengganti Ghulam yang pertama
(Khalifah Ahmadiyah yang
pertama setelah kebinasaan Nabi
Palsu mereka) : “Sesungguhnya kaum muslimin selain penganut
ajaran Qâdiyaniah (Ahmadiyah)
masuk dalam kandungan firman
Allah Azza wa Jalla : “Merekalah
orang orang yang kafir sebenar-
benarnya”. Kemudian ia membubuhkan catatan (ta’liq)
setelah perkataan di atas,
bunyinya: “Bagaimana mungkin
orang yang mengingkari Musa
Alaihissallam menjadi kafir dan
terlaknat, yang mengingkari Isa Alaihissallam juga kafir,
sementara orang yang
mengingkari Ghulam Ahmad tidak
kafir. Padahal perkataan kaum
mukminin adalah “Kami tidak
membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain)
dari rasulrasul-Nya,” .
Sementara mereka itu
membedakan sikap terhadap
para rasul. Oleh karena itu, orang
yang mengingkari Ghulam Ahmad pasti orang kafir dan masuk
dalam firman Allah : “Merekalah
orang orang yang kafir sebenar-
benarnya” [Kalimatul Fashl,
Basyîr Ahmad hal. 120, 174]. Dalam kitab an-Nubuwwah Fil
Ilhâm, hasil karya salah satu
ulama Ahmadiyah termaktub:
“Sesungguhnya Allah k berkata
kepadanya (Si Nabi Palsu):
“Orang yang mencintai-Ku dan menaati-Ku, wajib atas dirinya
mengikutimu dan beriman
kepadamu. Kalau tidak, ia belum
mencintai-Ku. Bahkan sebaliknya,
ia adalah musuh-Ku. Apabila para
pengingkar menolak ini, atau bahkan mendustakanmu dan
menyakitimu, maka Kami akan
membalas mereka dengan
balasan yang buruk, dan Kami
persiapkan bagi orang-orang
kafir itu Jahannam sebagai penjara bagi mereka”. Lalu
penulis berkomentar mengenai
ilham di atas, bahwa Allah Azza
wa Jalla telah menjelaskan di sini
bahwa orang yang mengingkari
Ghulam adalah orang kafir dan balasannya Jahannam”. [an-
Nubuwwah Wal Ilhâm,
Muhammad Yûsuf al-Qâdiyâni hal.
40]. Demikian cuplikan aqidah mereka
tentang kaum muslimin melalui
tulisan-tulisan sang Nabi palsu,
keturunan dan tokoh agama
mereka. Masih banyak aqidah
buruk mereka yang lain, yang kian menegaskan kesimpulan di
awal tulisan ini bahwa mereka
bukan kaum muslimin lagi. Jadi,
tinggal menunggu keberanian
mereka untuk menyatakan
dengan lantang dan keras bahwa mereka bukan kaum muslimin.
Dengan ini tensi permusuhan
kaum muslimin dengan mereka
(mungkin) sedikitbanyak akan
mereda.[6] TERPAKSA SHALAT DENGAN
KAUM MUSLIMIN KARENA
TAKUT TERBONGKAR JATI
DIRINYA BUKAN MUSLIM Karena vonis kafir yang mereka
arahkan kepada kaum Muslimin,
maka mereka tidak
memperbolehkan sholat di
belakang seorang muslim. Mesti
dipastikan terlebih dahulu bahwa sang imam adalah juga penganut
agama Ahmadiyah, sebelum
mereka ikut serta dalam suatu
sholat jamaah. Seandainya
mereka ikut serta dalam sholat
berjamaah dengan kaum muslimin, itu mereka lakukan
sekedar untuk menutupi topeng
mereka. Lantas mereka akan
mengulangi sholat (ala mereka) di
rumah. Sang Nabi Palsu berkata: “Inilah
(keterangan di atas) adalah
madzhabku yang sudah jelas.
yakni, tidak boleh bagi kalian
untuk sholat di belakang selain
penganut Ahmadiyah. Dalam kondisi apapun, siapapun
imamnya, walaupun nanti
memperoleh pujian dari orang-
orang. Inilah hukum Allah dan
kehendak Allah (?). Orang yang
ragu dan sangsi tentang ini termasuk dalam hitungan kaum
yang mendustakan. Allah ingin
membedakan kalian dari orang
lain [Malfûzhât al- Ghulâm/
pernyataan-pernyataan Ghulam
yang diterbitkan di Majalah al- Hikam milik Ahmadiyah tanggal
10 Desember 1904 M]. Dalam kitab Arbaîn miliknya (hal
34-35), si Nabi palsu berkata:
“Sesungguhnya Allah Azza wa
Jalla telah memberiku berita
Langganan:
Komentar (Atom)



